“Kasih Bapa”: Renungan, Kamis 10 Maret 2022

0
2123

Hari Biasa Pekan I Prapaskah (U)

T.Est. 4:10a,10c-12,17-19; Mzm. 138:1-2a,2bc-3,7c-8; Mat. 7:7-12

Suatu hari hiduplah satu keluarga kecil yang beranggotakan seorang bapak dan satu orang anak. Bapak itu bernama Yu Xukang. Karena istrinya sudah tiada, setiap harinya ia harus mengurus anaknya itu. Ia harus menyiapkan makanan serta mendampingi anaknya ke sekolah dengan jarak tempuh sejauh 28 km.

Injil hari ini berbicara tentang seorang ayah yang baik hati dan suka memberi. Sosok seorang ayah yang baik yang diungkapkan dalam Injil hari ini adalah Allah. Allah adalah figur yang tidak membiarkan kita hidup terlantar dan menderita. Ia selalu ada dan tetap memperhatikan apa yang kita butuhkan. Perlu disadari bahwa Allah tidak membiarkan seorangpun hidup menderita, sebagai mana dikatakan dalam Injil, “Mintalah, maka akan diberikan kepadamu; carilah, maka kamu akan mendapatkan; ketoklah, maka pintu akan dibukakan bagimu”. Ini menjadi kata-kata inspiratif bagi kita untuk tetap bertindak sesuai dengan kehendak Allah, karena Allah akan memberi apa yang kita butuhkan sesuai dengan “porsi” kita masing-masing.

Kebaikan Allah yang diungkapkan dalam Injil hari ini juga menuntut kita untuk membuka diri kita bagi Allah dan orang lain. Kita tidak boleh mementingkan diri kita sendiri, sebagaimana yang katakan dalam Injil, “Segala sesuatu yang kamu kehendaki supaya orang perbuat kepadamu, perbuatlah demikian juga kepada mereka”. Di sini Allah menghendaki kita untuk senantiasa berbagi kasih dan cinta terhadap sesama sebagaimana yang telah dilakukan-Nya.

Untuk itu, apakah kita sudah mensyukuri kebaikan Allah bagi kita? Apakah kita sudah mampu bertindak kasih terhadap Tuhan dan sesama? Marilah pada masa Prapaskah, masa yang penuh rahmat ini kita bertobat. Kita perlu berbalik pada Allah sumber hidup kita. Karena itu, masa Prapaskah ini merupakan kesempatan bagi kita untuk merenungkan betapa besar cinta dan kebaikan Allah yang selalu dicurahkan bagi kita umat-Nya. Mari senantiasa bertindak kasih terhadap Tuhan dan sesama, seperti memberi makanan bagi yang lapar, dan memberi pakaian bagi mereka yang telanjang. Karena sesungguhnya kasih merupakan hukum yang utama yang diberikan Tuhan kepada umat-Nya dan dengan kasih kita akan memperoleh kebahagiaan kekal, yakni keselamatan.

(Fr. Wellem Landa)

“Segala sesuatu yang kamu kehendaki supaya orang perbuat kepadamu, perbuatlah demikian juga kepada mereka. Itulah isi seluruh hukum Taurat dan kitab para nabi” (Mat. 7:12).

Marilah berdoa:

Ya Tuhan, baharuilah kami selalu dengan kasih-Mu. Amin.

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini