“Introspeksi Diri” : Renungan, Sabtu 5 Maret 2022

0
2913

Hari Sabtu sesudah Rabu Abu (U)

Yes. 58:9b-14; Mzm. 86:1-2,3-4,5-6; Luk. 5:27-32.

“Gajah di pelupuk mata tak tampak, kuman di seberang lautan tampak jelas”, demikian kata pepatah yang menggambarkan kecenderungan manusia yang lebih suka menghakimi kesalahan daripada melakukan introspeksi atas kelemahan diri sendiri. Sebuah sikap yang biasanya didasari oleh rasa iri hati dan benci kepada orang lain. Sikap negatif yang sama sekali tidak membangun kepribadian maupun kehidupan bersama.

Kita semua orang berdosa, namun sering memfitnah sesama karena merasa diri lebih suci. Yesaya berpesan, “Apabila engkau tidak lagi menunjuk-nunjuk dengan jari dan memfitnah; maka terangmu akan terbit dalam gelap”. Kekudusan bukan hanya dipelihara melalui doa dan puasa, tetapi terutama dengan sikap kasih, “tidak menghakimi sesama”.

Ketika Yesus memanggil Lewi pemungut cukai, serentak kaum Farisi memfitnah-Nya makan bersama pendosa, sebab merasa diri saleh. Bagi orang Farisi yang tidak senang dengan Yesus, semua kebaikan yang telah diperbuat-Nya tidak dapat mereka terima. Bahkan ada banyak yang iri hati pada Yesus, sampai ingin menyingkirkan-Nya. Orang yang iri hati demikian tidak melihat apakah yang dilakukan seseorang itu baik atau tidak, karena orang itu hanya mementingkan dirinya sendiri.

Yesus  menjawab, “Aku datang bukan untuk memanggil orang benar tetapi orang berdosa, supaya mereka bertobat”. Ungkapan ini mau menonjolkan belas kasih Yesus terhadap orang berdosa, meski harus dikatakan juga bahwa bukan untuk hal itu semata Yesus datang ke dunia ini. Tujuan kedatangan-Nya jauh lebih khusus, yaitu memberitakan Kabar Baik tentang kerajaan Allah dan ingin menjadikan manusia bahagia sepenuhnya dan sekaligus adanya perubahan di masyarakat sebagai tanda kedatangan Mesias. Di sini Yesus juga ingin mengembangkan cinta kasih dan persaudaraan sejati, maka dalam Injil Yesus memberikan teladan bahwa bagi-Nya tidak ada orang yang kotor atau najis.

Meskipun orang itu sangat berdosa, namun Yesus mau mendekati dan menyentuhnya. Yesus menganggap bahwa semua orang di dunia ini sama, sejajar dan berhak mendapatkan keselamatan. Itu sebabnya Yesus ingin menghapus jurang pemisah ini. Semoga masa puasa dan pantang ini dapat menuntun kita untuk lebih berintrospeksi diri dan bangkit dari kelemahan kita daripada terus melihat kelemahan sesama.

(Fr. Paskalis Jaftoran)

“Yaitu Yesus, yang telah diserahkan karena pelanggaran kita dan dibangkitkan karena pembenaran kita” (Rm. 4:25).

Marilah berdoa :

Tuhan, bebaskanlah aku dari dosa menghakimi sesama, sebab aku juga orang berdosa. Amin

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini