“Ingin mencapai kepenuhan hidup?” : Renungan, Senin 21 Maret 2022.

0
1829

Hari Biasa Pekan III Prapaskah (U).

2Raj. 5:1-15a; Mzm. 42: 2,3; 43:3,4; Luk. 4:24-30.

Kehidupan masa sekarang membutuhkan sesama dalam memenuhi kepenuhan hidup. Manusia tidak bisa berhasil dan merasakan kepenuhan hidup dengan dirinya sendiri. Kehidupan yang dijalani secara personal sungguh tidak mewarnai kehidupan.

Bacaan pertama menceritakan tentang kepedulian seseorang pelayan akan tuannya yang sedang menderita penyakit kusta. Kendati seorang hamba, ia berani menunjukkan jalan keluar pada tuannya yang memiliki peran yang penting dalam kerajaan. Atas petunjuk yang ada, banyak orang yang terlibat dalam membantu orang tersebut untuk bisa kembali melaksanakan tugasnya. Kendati ia sebagai panglima raja yang memiliki jabatan, ia tidak dapat berbuat sesuatu dalam keadaannya yang sekarang. Panglima yang sakit sempat menolak perintah dari Nabi Elisa yang menyuruhnya mandi sebanyak tujuh kali dalam sungai Yordan agar ia sembuh dan menjadi tahir (2 Raj.4:11). Memang sempat terjadi pertentangan dan penolakan dari panglima itu. Namun atas dorongan dari orang yang hidup dengannya, ia mengikuti permintaan nabi dan ia memperoleh kesembuhan.

Bacaan Injil menceritakan tentang Yesus yang hadir dan memberikan penjelasan lebih akan karya yang mendatangkan kesembuhan bagi orang banyak. Hal tersebut terjadi akibat adanya penolakan atas karya-Nya sendiri. Tindakan yang terjadi tidak diterima dalam lingkungan di daerah asal di mana Ia berkembang. Perbuatan-Nya yang baik mendapat pertentangan. Kendati demikian, Yesus sendiri tidak memilih orang dalam menawarkan pelayanan dalam melindungi sesama-Nya (Luk. 4: 27) .

Bacaan yang pertama dan bacaan Injil sesungguhnya ingin menegaskan suatu keterkaitan tentang usaha dan penerima dalam menjaga serta taat pada permintaan yang ada. Dalam realitas sekarang ini, memang seringkali orang berpikir bahwa permintaan sesama akan menghantar diri pada kesalahan saja dan tidak memandang permintaan yang ada sebagai jalan dalam hidup untuk mencapai perubahan.

Ajaran iman kita adalah saling memperhatikan dan bertolong-tolonglah menanggung beban. Semoga dalam masa prapaskah ini, kita dapat menuntun diri kita sendiri dan sesama untuk bertindak lebih baik sebagai suatu bentuk pengabdian pada Yesus yang akan menanggung penderitaan menebus umat-Nya.

(Fr. Petrus Piterson Kussoy)  

“Aku berkata kepadamu, sesungguhnya tidak ada nabi yang dihargai di tempat asalnya”  (Luk. 4:24)

Marilah berdoa:

Yesus, Engkau mengharapkan umat-Mu untuk saling membantu. Semoga kami dapat mencapai kepenuhan itu dalam kehidupan ini. Amin.

 

 

 

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini