“Godaan? NO!!!”: Renungan, Minggu 6 Maret 2022

0
1976

Hari Minggu Prapaskah I (U)

Ul. 25: 4-10; Mzm. 91: 1-2,10-11,12-13,14-15; Rm. 10:8-13; Luk. 4: 1-13.

Selama empat puluh hari, Tuhan Yesus berpuasa di padang gurun untuk menyiapkan karya perutusan-Nya. Demikian pun kita umat-Nya, menjalani masa Prapaskah selama 40 hari. Kita diajak untuk bermatiraga; pantang, puasa dan memberi derma, agar pantas untuk merayakan misteri keselamatan, yakni wafat dan kebangkitan Yesus. Kita pun diajak untuk menyiapkan diri dalam menghadapi godaan. Demikianlah “godaan” menjadi tema permenungan dalam pekan pertama masa Prapaskah.

Berbicara mengenai godaan, Yesus sendiri mendapat tiga godaan atau cobaan selama berpuasa di padang gurun. Ia dicobai untuk mengubah batu menjadi roti, agar dapat menghilangkan rasa lapar-Nya. Kemudian, Yesus ditawarkan kerajaan yang gemilang, dengan syarat Ia harus menyembah Iblis. Selanjutnya, Yesus diminta untuk memamerkan kemahakuasaan-Nya. Ia ditempatkan di bubungan Bait Allah dan diminta untuk menjatuhkan diri agar para malaikat datang menatang-Nya. Namun, Yesus berhasil menolak semua godaan Iblis. Yesus menang atas Iblis.

Tuhan Yesus menunjukkan teladan bagi umat-Nya untuk setia dan tetap teguh dalam iman, walaupun Ia dicobai. Dalam menjalani masa Prapaskah, kita diajak untuk berpantang, berpuasa dan menyerahkan sebagian milik kita sebagai derma. Memang, godaan-godaan selalu datang menghampiri. Kita bertarung melawan diri sendiri. Apakah mau hidup enak dengan segala kesenangan kita? Apakah harus terus memperkaya diri tanpa peduli dengan mereka yang berkekurangan? Ataukah memilih untuk menjauhkan diri dari segala kenikmatan dunia? Semua itu menjadi salib bagi kita untuk memperoleh sukacita pada Hari Raya Paskah dan lebih dari itu kita memperoleh keselamatan kekal.

Godaan adalah salib dan semua orang harus memikul salibnya sendiri. Tuhan Yesus memerintahkan, barangsiapa ingin menjadi murid-Nya, ia harus memikul salib (Luk. 9:23). Bila kita adalah murid Kristus, kita harus taat dan percaya kepada-Nya. Rasul Paulus mengungkapkan, jika kita percaya kepada Kristus, maka kita akan diselamatkan. Kepercayaan itu tentunya perlu dibarengi dengan penghayatan dalam hidup sehari-hari. Puasa, pantang dan memberi derma merupakan bentuk penghayatan iman akan Kristus. Rasa lapar dan segala keinginan naluriah perlu dikontrol untuk menjaga kemurnian diri. Sebagian dari rezeki kita, perlu dipersembahkan kepada Tuhan, lewat orang-orang yang berkekurangan. Kita perlu bersyukur kepada Tuhan, seperti yang dilakukan oleh umat terpilih yang selalu memberikan panenan pertama mereka bagi Tuhan.

Mari kita berpuasa, berpantang, memberi derma, dan katakan tidak pada godaan!

(Fr. Theodorus Michael Palit)

“Jangan engkau mencobai Tuhan, Allahmu!” (Luk. 4:12).

Marilah berdoa:

Ya Tuhan, bantulah aku dalam menghadapi berbagai godaan. Amin.

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini