“Dosakah Menjadi Orang Kaya?” : Renungan, Kamis 17 Maret 2022

0
2536

Hari Biasa Pekan II Prapaskah (U).

Yer. 17:5-10; Mzm. 1:1-2,3,4,6; Luk. 16:19-31.

Dalam berbagai pengajaran dan perumpamaan Yesus, kita sering mendengar kritik terhadap orang kaya. Tuhan Yesus pernah berkata kepada para murid-Nya, “…lebih mudah seekor unta masuk melalui lobang jarum daripada seorang kaya masuk ke dalam Kerajaan Allah” (Mat. 19:24). Bacaan Injil hari ini pun memiliki nuansa yang sama. Dikisahkan tentang seorang kaya yang menderita di alam maut dan Lazarus yang miskin di pangkuan Abraham. Lalu apakah berdosa jika kita menjadi kaya? Bukankah jika orang yang saleh bekerja dengan baik dan jujur, dia akan menjadi kaya berkat kesalehan, ketekunan dan kegigihannya?

Lewat injil hari ini, Tuhan mengingatkan kita untuk berhati-hati dengan belaian kenikmatan duniawi, yang kemudian mendatangkan maut dan menjauhkan manusia dari Allah. Secara ironis, Injil menggambarkan seorang kaya yang berpakaian mahal dan setiap hari berpesta, sementara Lazarus digambarkan penuh borok dan sangat miskin. Untuk menghilangkan laparnya, Lazarus harus memakan sisa makanan yang jatuh dari orang kaya. Kemudian, setelah keduanya mati, terlihat Lazarus mendapat tempat yang paling tinggi dan paling bahagia, sedangkan orang kaya berada dalam siksaan maut.

Tokoh orang kaya dengan jelas melambangkan realitas hedonisme zaman ini, yang tak jarang juga menggerogoti kehidupan para pengikut Kristus. Karena itu, Santo Hilarius dari Poitiers (dalam bukunya Liber Contra Constatinum)  mengingatkan bahwa di zaman now, punggung orang beriman tidak lagi dicambuk dengan cemeti, tetapi perutnya dibelai dengan sentuhan lembut dan nikmatnya kelezatan; harta milik mereka tidak lagi dirampas, tetapi mereka dibuat gila harta dan mabuk kekayaan untuk menggiringnya kepada kematian dan lupa daratan hidup abadi; tidak lagi dijebloskan ke dalam penjara, sehingga mendorong kepada kebebasan anak Allah, tetapi digiring menjadi budak nafsu dengan mengundang dan menghormatinya di istana peristirahatan dan hotel-hotel mewah; mereka tidak lagi menyiksa tubuh dengan penderaan, tetapi berusaha merebut hatinya; tidak lagi memancung kepala dengan pedang tetapi membunuh jiwa dengan uang.

Tuhan sesungguhnya memberi kebebasan bagi setiap orang untuk berusaha semaksimal mungkin dan kemudian menikmati hasil dari jerih payahnya. Namun, sebagai pengikut Kristus kita pun diingatkan untuk jangan menjadikan kekayaan atau kenikmatan sebagai tujuan hidup. Tujuan utama manusia adalah bersatu dengan Kristus. Di tengah perjuangan sebagai pengikut Kristus ini, hari ini kita diingatkan untuk tidak jatuh dalam belaian duniawi, agar terhindar dari maut dan dapat mencapai persatuan dengan Allah.

(Fr. Paulus Gino Wuisan)

“Bapa Abraham, kasihilah aku. Suruhlah Lazarus, supaya ia mencelupkan ujung jarinya ke dalam air dan menyejukkan lidahku, sebab aku sangat kesakitan dalam nyala api ini”       (Luk. 16:24).

Marilah berdoa:

Bapa, ajarkanlah aku untuk hidup sederhana. Amin.

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini