“Dengarlah dan Bertobatlah”: Renungan, Rabu 9 Maret 2022

0
1804

Hari Biasa Pekan  I Prapaskah (U)

Yun. 3:1-10; Mzm 51:3-4, 12-13, 18-19; Luk 11:29-32

Saudara yang terkasih, bacaan pertama hari ini mengisahkan peristiwa pertobatan orang-orang Niniwe setelah mendengar perihal malapetaka yang dikabarkan oleh Nabi Yunus. Dalam pewartaan tersebut dikisahkan bahwa orang-orang Niniwe tidak marah, melainkan percaya bahwa Allah akan membinasakan mereka jika mereka tidak bertobat. Kepercayaan orang-orang Niniwe kepada pewartaan Nabi Yunus ini merupakan suatu gambaran yang baik dari setiap pribadi manusia. Hal ini menunjukkan bahwa untuk memperoleh keselamatan dibutuhkan kepercayaan akan Firman Allah. Kepercayaan seperti apa yang dibutuhkan? Sudah jelas digambarkan dalam bacaan pertama bahwa kepercayaan yang ditunjukkan oleh orang-orang Niniwe yakni dengan melakukan segala aturan yang mampu menyenangkan hati Allah.

Dalam bacaan Injil Yesus menggambarkan kisah yang juga serupa dengan bacaan pertama, di mana digambarkan sekelompok orang yang meminta tanda dari Yesus sebagai bukti kepercayaan mereka terhadap Yesus. Namun, Penginjil mengisahkan bahwa Yesus menegur orang-orang pada zaman itu karena lebih menuntut tanda yang menurut Yesus sendiri tidak perlu lagi untuk diminta. Hal ini disebabkan karena tanda yang dimaksudkan Yesus adalah diri-Nya sendiri sebagai tanda keselamatan bagi seluruh umat manusia. Selain itu juga, kehadiran Yesus di dunia ini berbeda dengan kehadiran Nabi Yunus. Nabi Yunus hadir untuk membawa teguran malapetaka, sementara Yesus sendiri hadir sebagai perwujudan inisiatif Allah yang menyelamatkan tanpa membawa malapetaka atau hukuman bagi manusia. Karya penyelamatan yang dikerjakan Allah merupakan bukti cinta-Nya bagi setiap orang yang taat kepada-Nya.

Kehidupan zaman sekarang yang banyak dengan perkembangan dan godaan tentunya dapat membuat relasi kita dengan Tuhan semakin jauh. Karena itu, di masa Prapaskah ini marilah kita mengambil dan menyisipkan waktu dari segala kesibukan duniawi untuk datang dan mendengarkan sabda Tuhan serta melaksanakannya agar keselamatan yang terjadi karena sengsara, wafat, kebangkitan Kristus sungguh-sungguh kita nikmati. Inilah yang merupakan salah satu wujud pertobatan yang kita lakukan dalam menjalani kehidupan ini, di mana ketika kita sibuk dengan urusan dunia, kita pun harus bertobat dan berbalik kepada-Nya, karena sesungguhnya Tuhan Maha Pengampun dan di dalam Dia kita akan memperoleh keselamatan.

(Fr. Rio Suarlembit)

“Sebab seperti Yunus menjadi tanda untuk orang-orang Niniwe, demikian pulalah Anak Manusia menjadi tanda untuk angkatan ini” (Luk. 11:30).

Marilah berdoa:

Ya Allah Bapa di surga, bantulah kami untuk tidak hanya menikmati kenikmatan dunia ini, melainkan mendengarkan dan melaksanakan kehendak-Mu. Amin.

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini