“Pengikut yang Sejati” : Renungan, Selasa 1 Maret 2022.

0
1952

Hari Biasa (H)

1Ptr. 1:10-16; Mzm. 98:1,2-3ab,3c-4; Mrk. 10:28-31.

Seorang pengikut haruslah memiliki kesetiaan dan keseriusan. Hal itu sangat penting demi menunjukkan totalitas dan kesungguhannya dalam menjadi pengikut yang setia. Ia harus rela untuk mengikuti segala aturan yang ada demi perkembangan dirinya. Bahkan, segala konsekuensi yang terkesan merugikan bahkan mengancam dirinya, pasti akan dia terima dan jalani.

Bacaan-bacaan hari ini mengajak kita untuk berefleksi sejenak untuk memahami arti dari menjadi pengikut Kristus yang sejati. Bacaan pertama melukiskan bagaimanakah seharusnya sikap seorang pengikut Kristus. Penulis mau menekankan bahwa seorang pengikut harus melayani orang lain dan bukan melayani diri sendiri. Lebih lanjutnya lagi, seorang pengikut itu harus hidup kudus, seperti Bapa di surga yang Kudus.

Penulis Injil Markus menceritakan percakapan antara Yesus dan Petrus mengenai syarat-syarat untuk menjadi pengikut yang sejati, yaitu rela meninggalkan segala-galanya bahkan harus tahan untuk menghadapi berbagai penganiayaan yang kelak dihadapi. Pada akhirnya, mereka yang bertahan akan menerima upah yang lebih banyak sesuai dengan apa yang mereka korbankan dahulu. Itulah konsekuensi atas pilihan pekerjaan yang ditawarkan Yesus dan upah yang kelak akan diperoleh setiap orang yang rela berkorban dan setia untuk menjalankan pekerjaan tersebut.

Saudara-saudari yang terkasih, menjadi pengikut Kristus berarti juga menjadi pekerja-pekerja bagi kemajuan Kerajaan Allah di dunia ini. Menjadi pengikut Kristus membutuhkan suatu sikap atau pemberian diri atau totalitas yang sepenuh-penuhnya dan tidak memikirkan diri sendiri. Bahkan, seorang pengikut harus rela meninggalkan segala kepunyaan yang dimiliki dalam kehidupan. Kriteria-kriteria ini barangkali akan membuat setiap orang untuk tidak mau dan menolak menjadi pengikut Kristus. Tetapi, janji Yesus mengenai upah atau gaji sebagai seorang pengikut memiliki arti dan nilai yang tak sebanding dengan gaji atau upah duniawi. Upah atau gaji yang ditawarkan oleh Yesus menyangkut kebahagiaan di akhirat, yaitu kehidupan kekal.

Menjadi pengikut Kristus pertama-tama bukan soal mencari upah atau gaji agar bisa menjadi kaya. Dengan kata lain, mencari kekayaan duniawi. Tetapi menjadi pengikut Kristus haruslah pertama-tama mengumpulkan kekayaan surgawi yang tak tergantikan oleh apapun.

(Fr. Christoforus Lontoh)

 “Tetapi banyak orang yang terdahulu akan menjadi yang terakhir dan yang terakhir akan menjadi yang terdahulu” (Mrk. 10:31).

Marilah berdoa:

Ya Tuhan, mampukanlah kami untuk tetap setia menjadi pengikut-Mu sampai akhir nanti . Amin.

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini