“Mengandalkan Tuhan di dalam Hidup” : Renungan, Minggu 13 Februari 2022

0
3169

Hari Minggu Biasa VI (H)

Yer. 17:5-8; Mzm. 1:1-2,3,4,5,6; 1Kor. 15:12,16-20; Luk. 6:17,20-26.

Bacaan-bacaan Kitab Suci hari ini mengisahkan tentang satu poin penting yang perlu kita refleksikan bersama, yakni “Mengandalkan Tuhan di dalam hidup”. Orang yang mengandalkan Tuhan di dalam hidupnya akan seperti pohon yang ditanam di tepi air, yang merambatkan akar-akarnya ke tepi batang air, yang  mengalami datangnya panas terik namun daunnya tetap hijau, yang tidak khawatir dalam tahun kering, dan yang tidak berhenti menghasilkan buah. Orang yang mengandalkan Allah, senantiasa mengalami sukacita, mampu untuk menyalurkan rahmat kepada orang lain, menghasilkan banyak buah kebaikan, dan tidak khawatir dalam berbagai pencobaan.

Kehadiran Allah sebagai sumber air hidup nyata di dalam pribadi Kristus yang berinkarnasi. Ia telah menderita, wafat, dan bangkit demi keselamatan kita. Dengan kebangkitan-Nya, Kristus telah mengalahkan maut dan menunjukkan jalan kepada kita bahwa iman kita kepada-Nya tidaklah sia-sia belaka. Kebangkitan Kristus inilah yang Rasul Paulus wartakan di dalam bacaan hari ini, di mana dengan kabangkitan-Nya orang yang di dalam hidupnya mengandalkan Tuhan akan mengalami kebangkitan sama seperti Kristus sendiri. Namun, perlu disadari bahwa kebangkitan tidak secara otomatis di peroleh begitu saja tanpa ada komitmen untuk berubah, berjuang, dan bekerja keras secara terus-menerus.

Dalam Injil hari ini Yesus mengajar orang banyak dengan ucapan bahagia dan peringatan. Ucapan bahagia, Yesus tujukan kepada mereka yang sungguh-sungguh mengandalkan Tuhan di dalam hidupnya, sedangkan peringatan Yesus tujukan kepada mereka yang masih terikat dengan hal-hal duniawi seperti: tamak dan merasa nyaman dengan kekayaan, suka menerima pujian, tertawa di atas penderitaan orang lain, dan merasa kenyang dengan hasil rampasan orang-orang kecil dan miskin. Peringatan yang sama juga Yesus tujukan kepada kita yang beriman kepada-Nya saat ini agar kita bangkit dari kemalasan, bangkit dari kecemburuan, bangkit dari iri hati dan sakit hati, bangkit dari kemunafikan, bangkit dari kebohongan, bangkit dari keberdosaan, dan lain-lain. Dengan demikian, kebangkitan yang kita hayati saat ini menentukan kebangkitan yang akan datang.

(Fr. Loiz Wazi)

“Sebab Tuhan mengenal jalan orang benar, tetapi jalan orang fasik menuju kebinasaan” (Mzm. 1:6).

Marilah berdoa:

Ya Allah, mampukanlah kami untuk bangkit dari dosa-dosa kami, agar kami layak hidup di hadapan-Mu dan berikanlah kami rahmat kesanggupan agar di dalam suka-duka kehidupan ini kami tetap mengandalkan Dikau. Amin.

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini