“Kesabaran dan Kesatuan”: Renungan, Jumat 25 Februari 2022

0
1517

Hari Biasa (H)

Yak 5:9-12; Mzm 103:1-2, 3-4, 8-9, 11-12; Mrk 10:1-12

Perceraian adalah keputusan untuk mengakhiri suatu relasi atau hubungan. Perceraian biasanya terjadi antara suami dan istri. Penyebabnya bisa bermacam-macam. Intinya, bercerai berarti terputusnya hubungan yang pernah terjalin erat antara seorang dengan orang lain.

Dalam Injil hari ini, Penginjil Markus menceritakan perkara perceraian yang terjadi dan sikap Yesus terhadap perkara itu. Dari Injil hari ini Kita dapat belajar dua hal yakni kesatuan dan kesabaran.

Pertama, KESATUAN. Yesus menjelaskan bahwa perceraian hendaknya tidak boleh terjadi karena Allah sejak dahulu menghendaki kesatuan bukan perceraian atau perpecahan. Di dalam kesatuan ada kebahagiaan, suka cita dan berkat. Perceraian adalah buah dari perpecahan karena keegoisan individual dan akibatnya ialah hilangnya berkat, suka cita dan damai.

Senada dengan apa yang Yesus katakan, dalam bacaan pertama rasul Yakobus menasihati kita semua untuk tetap bersatu dalam teladan para nabi. Kesatuan dengan para pendahulu kita yang menunjukkan cara hidup yang baik dan tidak menyerah harus kita teladani. Dalam kehidupan sehari-hari sebagai suami-istri, orang tua dan anak, pekerja dan majikan, dosen dan mahasiswa, dokter dan pasien dan lainnya. Hendaknya kita tetap membangun kesatuan sebagai sesama anak-anak Allah. Sebab kesatuan dikehendaki oleh Bapa kita. Perceraian, perkelahian, perpecahan dan pemberontakan hanya akan berbuah kepahitan, kesedihan dan duka yang mendalam.

Kedua, KESABARAN. Buah dari perpecahan, perceraian dan perpisahan salah satunya ialah karena hilangnya kesabaran. Dalam Injil, Yesus menegaskan bahwa perceraian terjadi karena keinginan manusia. Keinginan yang lahir karena ketidaksabaran. Ketika orang menghadapi situasi krisis di dalam kehidupannya, banyak orang akan memilih untuk melarikan diri, menyerah dan mundur.

Dalam kehidupan, sumai-istri tak jarang perceraian terjadi karena matinya kesabaran di dalam membangun rumah tangga. Anak dan orang tua berkelahi bahkan berpisah karena hilangnya kesabaran. Rasul Yakobus dalam bacaan pertama mengingatkan kita untuk meneladani kesabaran yang ditunjukkan oleh para nabi. Karena kesabarannya, para nabi dipilih Allah dan dianugerahi kejayaan dan kebahagiaan bersama Allah.

Setiap dari kita dalam menjalani kehidupan hendaknya membangun sikap sabar sehingga terciptalah kesatuan dalam komunitas hidup kita, di dalam keluarga, di dalam masyarakat kita dan di dalam Gereja kita. Kesabaran membuahkan kesatuan dan kesatuan mendatangkan berkat dan rahmat Allah bagi kita.

(Fr. Alowisius A.S. Sormudi)

“Apa yang dipersatukan Allah tidak boleh diceraikan Manusia” (Mrk. 10:9).

Marilah berdoa:

Tuhan Yesus, tuntutanlah kami selalu agar tetap sabar dalam menjalani hidup ini dan tetap bersatu dengan Dikau dan sesama kami. Amin.

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini