Hari Biasa (H)
1Raj.11:29-32; 12:19; Mzm. 81:10-11ab, 12-13, 14-15; Mrk. 7:31-37
Pada hari ini, Injil menceritakan tentang Yesus yang menyembuhkan seorang tuli dan gagap. Pada saat itu, Yesus memasukkan jari-Nya ke telinga orang itu, lalu meludah dan meraba nya. Kemudian sambil menengadah ke langit Yesus menarik nafas dan berkata, “Efata!”, artinya: Terbukalah! Maka terbukalah telinga orang itu dan seketika terlepaslah pengikat lidahnya, dan ia pun berkata-kata dengan baik. Mungkin dari kisah di atas kita dapat bertanya bahwa apakah Yesus hanya menyembuhkan orang itu dari penyakitnya saja? Tentu tidak. Yesus menyembuhkan orang itu dengan maksud dan tujuan tertentu.
Tujuan pertama, Yesus menyembuhkan orang yang tuli itu bukan semata-mata agar dia kembali mendengar saja. Melainkan Yesus ingin agar dia kembali mendengarkan sabda Tuhan dan kemudian masuk ke dalam kerajaan-Nya. Mengapa demikian? Karena keselamatan kita umat manusia tergantung dari seberapa sering kita mendengarkan sabda Tuhan, dan bagaimana kita meresapkannya di dalam kehidupan kita. Tujuan kedua yakni, Yesus menyembuhkan lidah orang itu bukan hanya agar dia dapat kembali berbicara saja. Melainkan agar dia dapat menyambungkan lidah Allah atau dengan kata lain menjadi pewarta sabda Allah kepada seluruh umat manusia.
Jika digabungkan antara kedua tujuan tersebut, maka kita akan menemukan makna sebenarnya mengapa Yesus menyembuhkan orang yang sakit tuli dan gagap. Perbuatan Yesus ini bukan hanya sekedar tindakan penyembuhan, melainkan juga sebagai tindakan keselamatan. Yang dimaksud dari tindakan keselamatan adalah hakekat yang sebenarnya dan yang seharusnya tercermin dalam pribadi Yesus sebagai Putra Allah, yang turun ke dunia untuk membawa keselamatan bagi umat manusia. Sebab, pada dasarnya keselamatan hanya akan diterima oleh mereka yang mendengarkan dan mewartakan sabda Allah. Dan memang untuk itulah maksud dari kehadiran-Nya, yakni mendatangkan atau menjadikan segala sesuatu menjadi baik adanya.
Dengan demikian, Yesus ingin agar kita semua yang adalah umat-Nya mencapai kebahagiaan di surga bersama Dia. Sebab, keselamatan datang kepada orang yang mendengar dan mewartakan sabda Allah lewat perbuatan dan tingkah lakunya setiap hari.
(Fr. Hilarius Rudolfo Manaan)
Mereka takjub dan tercengang dan berkata: “Ia menjadikan segala-galanya baik, yang tuli dijadikan-Nya mendengar, yang bisu dijadikan-Nya berkata-kata” (Mrk. 7:37).
Marilah berdoa :
Ya Yesus, sembuhkanlah kami dari segala sakit dan jadikanlah kami baik, agar kami bisa mendengarkan dan mewartakan sabda-Mu serta kemudian melaksanakannya dengan setia. Amin.











