Pesta Yesus dipersembahkan di Bait Allah (P)
Mal. 3:1-4; Luk. 2:22-32.
Misteri inkarnasi Yesus Kristus adalah bagian dari karya keselamatan yang Allah tunjukkan kepada umat manusia. Sang Sabda yang menjelma menjadi manusia menampilkan bukti nyata dari cinta Allah yang tak berkesudahan. Setelah melalui empat puluh hari pesta natal, kini kita merayakan Pesta Yesus dipersembahkan di Bait Allah. Inilah pesta kesulungan seturut tradisi Yahudi, hal mana setelah disunat, setiap anak sulung dipersembahkan kepada Allah. “Semua anak laki-laki sulung harus dikuduskan bagi Allah” (Luk. 2: 23). Hari ini juga disebut pesta pemurnian Maria. Dia dimurnikan bukan karena dia berdosa, tetapi karena menurut hukum Musa, setiap wanita yang melahirkan akan menjadi “tidak bersih” secara ritual atau tidak layak untuk penyembahan, dan dia harus menjalani empat puluh hari periode pemurnian, serta mempersembahkan korban pemurnian (Im. 12:1-8).
Maleakhi mengajak umat yang sedang mengalami krisis iman untuk percaya bahwa Tuhan ada dan Ia akan masuk ke dalam bait Suci. Mengapa mereka krisis iman? Umat Israel pada waktu itu berniat membangun Bait Allah tetapi mereka merasa Tuhan sepertinya diam saja. Nabi Maleakhi, sebagai utusan Allah menguatkan mereka. Allah bersabda: “Lihat, Aku menyuruh utusan-Ku, supaya menyiapkan jalan dihadapan-Ku! Tuhan yang kamu cari itu dengan mendadak akan masuk ke dalam Bait-Nya.” (Mal. 3:1). Maleakhi melanjutkan bahwa ada malaikat Perjanjian yang akan datang dan menghidupkan Kenisah. Nubuatnya menjadi sempurna dalam diri Yesus Kristus yang dipersembahkan di Bait Allah.
Lukas dalam kisahnya menampilkan lima tokoh yakni Yesus, Maria, Yosef, Simeon dan Hana. Yusuf dan Maria adalah orang Yahudi yang setia. Mereka membawa Yesus ke Bait Suci di Yerusalem dan menyerahkan Yesus kepada Tuhan. Dengan demikian Yesus disucikan menurut Hukum Musa. Di waktu yang sama ada Simeon dan Hana yang menunggu pemulihan pemerintahan Tuhan di Israel. Semua telah dijanjikan oleh Roh Kudus bahwa mereka akan melihat Mesias, Kristus Tuhan, sebelum mereka meninggal. Simeon adalah orang yang saleh dan orang benar yang menanti-nantikan kedatangan Allah. Perjumpaan itu menjadi penghiburan bagi hatinya. Ia menatang bayi Yesus dan merasa damai. Ia diurapi oleh Roh Kudus. Sementara Hana bersyukur kepada Allah dan membicarakan tentang Yesus kepada semua orang yang menantikan kelepasan untuk Yerusalem.
Allah bercahaya dalam diri setiap orang yang hidupnya benar, saleh, taat dan setia. Penantian akan kelahiran Sang Juruselamat telah nyata dalam kelahiran Yesus Kristus. Peristiwa ini menunjukkan bahwa Allah menepati janji keselamatan-Nya dan Yesus Kristus setia pada kehendak Allah berkat kasih karunia dan Roh Allah. Keluarga kudus beserta Simeon dan Hana adalah mereka yang dipenuhi dengan Roh. Sudahkah kita hidup dalam kepenuhan Roh Kudus?
(Fr. Yanto Kansil)
“Mataku telah melihat keselamatan yang dari pada-Mu” (Luk. 2:30).
Marilah berdoa:
Ya Tuhan, curahkanlah Roh-Mu kepada kami agar mampu mengenal kehendak-Mu dalam seluruh hidup kami. Amin.











