Hari Bisa (H).
1 Raj. 8:22-23,27-30; Mzm. 84:3,4,5,10,11; Mrk. 7:1-13.
Manusia zaman sekarang sesungguhnya telah dibohongi oleh apa yang diterima melalui panca indra. Manusia selalu tertarik pada berbagai macam bentuk yang memikat dan membuatnya tergiur dengan segala penampilan yang ada. Namun ia tidak pernah menyadari bahwa yang rill atau nampak itu belum tentu sejalan dengan hati dan cinta yang tulus. Oleh sebab itu, apa yang dilihat berdasarkan kasat mata bisa membuat kita jatuh pada jalan yang salah. Sehingga banyak orang selalu hidup dalam kemunafikan, bahkan kejujuran pun seakan-akan dihilangkan. Sebab, ketika kejujuran diungkapkan maka kita akan dijauhi oleh orang lain.
Yesus dalam Injil hari ini sangat menentang kehidupan dari orang-orang yang hidup dalam kemunafikan dan kepalsuan, seperti praktek kehidupan dari orang-orang Farisi dan ahli-ahli Taurat. Hal ini nampak ketika kaum Farisi makan bersama dengan para murid yang makan tanpa mencuci tangan, sehingga mereka pun mengatakan bahwa itu suatu kenajisan, karena kaum Farisi selalu bersandar pada tradisi nenek moyang mereka yang ketika pulang dari pasar, mereka tidak makan sebelum mencuci tangan.
Maka Yesus menentang kehidupan orang Farisi dan ahli-ahli Taurat. Sebab, kendati mereka selalu berdoa kepada Allah, namun mereka masih melakukan ajaran yang berasal dari manusia. Yesus sendiri pun mengecam orang-orang Farisi dan ahli-ahli Taurat, karena mereka lebih mengutamakan hukum yang membuat mereka hidup dalam kemunafikan dan menganggap diri lebih baik dan suci, dibandingkan melaksanakan perintah Allah.
Perintah Allah yang paling utama adalah kasih. Ketika orang hidup di dalam kasih maka secara spontan sikap batinnya akan berjalan berdasarkan perintah Allah untuk mengasihi sesama, jujur, dan tampil apa adanya di hadapan Allah dan sesama. Namun, perbuatan kasih tidak dapat muncul dengan sendirinya. Oleh karena itu, kita perlu menyerahkah secara total, diri kita kepada Tuhan dengan senantiasa berdoa kepada-Nya, seperti yang dilakukan oleh Salomo. Sehingga, doa perlu dijadikan sebagai dasar kehidupan kita, sebab hanya melaluinya kita dapat mengetahui apa yang menjadi kehendak Tuhan, apa yang menjadi keinginan-Nya, dan tentunya apa yang bagi Tuhan baik bagi kita.
Redaksi Lentera Jiwa
“Berpalinglah kepada doa dan permohonan hamba-Mu ini, ya Tuhan Allahku, dengarkanlah seruan dan doa yang hamba-Mu panjatkan di hadapan-Mu pada hari ini!” (1Raj. 8:28).
Marilah berdoa:
Ya Tuhan, teguhkanlah hati kami agar senantiasa mampu berserah kepada–Mu dan mampukanlah kami menjalankan apa yang menjadi kehendak–Mu. Amin.











