“Bijaksana atas Kehidupan”: Renungan, Sabtu 5 Februari 2022

0
1492

Pw S. Agata, PrwMrt (M). Hari Biasa (H)

1Raj. 3:4-13; Mzm. 119:9,10,11, 12,13,14; Mrk. 6:30-34.

Santa Agata merupakan seorang martir. Wajahnya yang cantik membuat Gubernur Romawi Catania, yakni Quinzianus ingin menjadikannya sebagai isterinya. Namun, Agata menolak tawaran tersebut, karena ingin mempersembahkan hidupnya bagi Yesus. Akibat penolakan tersebut, Quinzianus menjadi marah dan mengirimnya ke seorang pendosa untuk dijadikan wanita penghibur. Akan tetapi, Agata tetap menjaga kesucian dirinya. Hal ini membuat Gubernur marah dan menyuruh orang untuk menyiksa Agata, serta mengurungnya di penjara.

Yesus dalam Injil hari ini mengajak para murid untuk pergi ke tempat yang sunyi, supaya mereka sendirian dan dapat beristirahat seketika. Tindakan Yesus mengajak murid-murid-Nya bertujuan untuk membantu mereka merefleksikan segala pekerjaan yang telah mereka lakukan. Tindakan ini menjadi suatu penegasan bahwa manusia dalam kehidupan perlu untuk menarik diri sejenak dari dunianya, agar ia dapat beristirahat sejenak. Namun, istirahat tersebut diperlukan agar manusia memiliki waktu untuk merefleksikan apa yang telah dia lakukan dan nantinya dilakukan.

Dalam kehidupan sehari-hari, sebagai pengikut Kristus kita perlu untuk merefleksikan apa yang telah dilakukan dan yang akan dilakukan. Sebab, dengan berefleksi kita dibantu untuk melihat kelebihan dan kekurangan yang dilakukan dalam pekerjaan sebelumnya, yang nantinya membantu kita untuk semakin berkembang ke depannya. Sehingga, melalui refleksi atas diri, Yesus sesungguhnya menuntun kita untuk menjadi orang-orang yang bijaksana dalam memandang berbagai hal dalam kehidupan.

Dengan menjadi bijaksana, maka kita pun sama seperti Salomo yang menjadi semakin berkembang dalam kehidupannya. Sebab, kebijaksanaan selalu mengarahkan kita pada kehidupan yang baik. Bukti kebijaksanaan itu dapat dilihat dalam tindakan Yesus, yang kendati lelah karena pekerjaan, namun tetap mengajar banyak orang. Selain Yesus, ada pula Santa Agata yang bijaksana memutuskan untuk memilih menjadi pengikut Kristus dan menolak memiliki kekayaan duniawi dengan menikahi Quinzianus.

Dengan demikian, kita perlu adakalanya berhenti sejenak dari kesibukan kita dan beristirahat sejenak, sekaligus berefleksi atas apa yang dilakukan. Dengan begitu kehidupan kita bisa semakin berkembang dan kita pun dapat menjadi semakin bijaksana dalam memandang berbagai hal yang ada dalam kehidupan.

(Fr. Albertus Solang)

“Berikanlan kepada hamba-Mu ini hati yang faham menimbang perkara untuk menghakimi umat-Mu dengan membedakan antara yang baik dan jahat, sebab siapakah yang sanggup menghakimi umat-Mu yang sangat besar ini?” (1 Raj. 3:9).

Marilah berdoa:

Ya Tuhan, semoga kami semakin berkembang menjadi orang yang bijaksana dalam kehidupan. Amin.

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini