Hari Biasa (H).
Yak. 5:13-20; Mzm. 141:1-2,3.8; Mrk. 10:13-16.
Anak-anak sering diidentikkan sebagai seorang yang polos dan tidak tahu apa-apa. Oleh karenanya, orang dewasa sering kali memandang anak-anak sebelah mata. Bahkan kebanyakan perbuatan anak-anak dinilai kurang berkenan di mata orang-orang dewasa. Nyatanya diri kita sendiri sesungguhnya merupakan anak-anak Allah.
Injil hari ini menampilkan sikap Yesus yang menerima anak-anak yang datang kepada-Nya. Yesus bahkan memarahi para murid yang mencoba menolak anak-anak tersebut. Bagi Yesus anak-anak merupakan representasi terhadap orang yang hendak masuk ke dalam Kerajaan Surga. Menarik bahwa hari ini Yesus menghendaki agar para murid mengikuti sikap anak-anak tersebut. Di hadapan Allah, kita hanyalah seperti anak kecil. Untuk itu, selayaknya kita pun memiliki sikap seperti anak kecil. Dari sini beberapa sikap yang bisa kita hidupi antara lain.
Pertama, keterbukaan diri. Yesus menghendaki agar kita mau menerima orang lain sebagaimana Yesus menerima anak-anak yang datang kepada-Nya. Yesus menampilkan sikap keterbukaan kepada siapa saja yang datang kepada-Nya. Demikianpun hal ini menjadi nasehat dari Yakobus supaya kita saling mendoakan dan saling mengakui dosa.
Kedua, penyerahan diri. Anak-anak dalam bacaan injil menampilkan sikap kedekatan yang intens dengan Yesus. Yesus menghendaki agar orang mampu bersikap seperti anak kecil dalam menanggapi kehendak Tuhan dalam hidupnya. Demikian kita pun mesti menyerahkan diri seutuhnya kepada Kristus. Sebagaimana sikap yang ditampilkan oleh anak-anak dalam bacaan Injil, layaklah kita memampukan diri untuk mendekatkan diri kepada Kristus. Hal ini sesungguhnya merupakan bentuk persembahan diri.
Anak-anak dipakai oleh Yesus sebagai simbolisasi atas orang Kristen yang sejati. Sikap Yesus yang membiarkan anak-anak mendatanginya menyatakan bahwa kita pun harus senantiasa mendatanginya. Yakobus dalam suratnya dengan jelas memberi nasehat supaya orang selalu mencari Tuhan ketika menderita, bergembira, ataupun ketika sakit. Relasi kedekatan Tuhan ini akan terbentuk secara nyata dalam doa. Doa membentuk kedekatan kita dengan Tuhan. Doa yang benar niscaya mampu membawa pertobatan seperti Elia yang digambarkan oleh Yakobus.
(Fr. Wilio Kalesaran)
“Sesungguhnya barangsiapa tidak menyambut Kerajaan Allah seperti seorang anak kecil, ia tidak akan masuk ke dalamnya” (Mrk. 10: 15).
Marilah berdoa:
Ya Allah, mampukanlah aku untuk menyerahkan diri pada-Mu seutuhnya. Amin.











