“Berbelaskasih Seperti Apa?”: Renungan, Selasa 4 Januari 2022

0
1764

Hari Biasa Sesudah Penampakan Tuhan (P).

1Yoh. 4:7-10; Mzm. 72:2,3-4ab,7-8; Mrk. 6:34-44.

Ada seorang raja yang kaya raya. Semua keinginannya untuk barang tertentu pasti diperolehnya. Apapun caranya, ia akan berusaha untuk menemukannya. Seiring dengan berjalannya waktu, sang raja mengakui dalam hati kecilnya bahwa walaupun apa yang ia inginkan dapat terpenuhi, tetapi ia merasa bahwa ada sesuatu yang masih kurang. Selama ini para pengawalnya berusaha menemukan apa yang raja inginkan. Tapi pertanyaannya, apakah raja sudah mengabulkan keinginan pembesar, pengawal dan bahkan rakyatnya yang miskin dan papa?

Dalam bacaan pertama, Rasul Yohanes mengajak kita untuk melihat bukti kelahiran kasih yang tentunya harus dikembangkan. Implikasi dari kasih itu ialah permintaan rasul Yohanes untuk kita saling mengasihi, memperhatikan sesama kita dan berusaha memajukan kesejahteraan mereka. Rasul Yohanes menghimbau untuk kita melakukan keputusan yang mau menolong orang sebab kasih dalam diri kita pertama-tama bersal dari Allah sendiri yang dinyatakan melalui kelahiran anak-Nya yang tunggal untuk manusia. Karena itu, Allah mengasihani kita dan mengampuni kita. Dengan demikian, kita hendaknya saling mengasihi karena Allah telah hadir dalam diri kita dan menyempurnakan kasih-Nya itu dalam diri kita melalui Yesus yang diutus-Nya.

Bacaan Injil mengisahkan juga tentang belas kasihan. Belaskasihan adalah sesuatu yang menggerakkan hati sanubari orang untuk simpati terhadap sesama yang menderita, malang dan memampukan kita untuk menolong mereka. Belas kasih merupakan ciri Allah dan putra-Nya Yesus. Oleh karena itu, Yesus menginginkan kita sebagai pengikut-Nya untuk memiliki sikap seperti diri-Nya, yakni punya belas kasih.

Pada hari Minggu dalam pekan ‘Penampakan Tuhan’ ini kita hendaknya punya sikap belas kasih. Belas kasih bukan berarti kita beritikad baik kepada orang. Belas kasih sesungguhnya ialah bagaimana sebagai orang Kristen, kita solider dengan sesama yang menderita. Penderitaan mereka adalah juga bagian dari penderitaan kita. Hendaknya kita memandang mereka sebagai sahabat dan mau menolong mereka dalam setiap suka dan derita agar supaya belaskasih Allah yang diam dalam diri kini berbuah bagi mereka yang membutuhkan.

(Fr. Salfatoris Duarmas)

 “Barangsiapa tidak mengasihi, ia tidak mengenal Allah, sebab Allah adalah kasih” (1 Yoh. 4:8).

Marilah Berdoa:

Ya Alah, mampukanlah kami untuk menyeberluaskan karya belaskasih-Mu dalam diri kami melalui Yesus Tuhan dan pengantara kami. Amin.

 

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini