“Mengambil Keputusan yang Adil”: Renungan, Jumat 14 Januari

0
1465

Hari Biasa (H)

1 Sam. 8:4-7, 10-22a; Mzm. 89:16-17,18-19; Mrk. 2:1-12.

Dalam hidup, kita seringkali dihadapkan dengan berbagai pilihan dalam mengambil keputusan terhadap sesuatu. Kita sering mengalami dilema  dengan keputusan yang kita ambil sendiri. “Apakah keputusan yang dibuat dapat membahagiakan orang lain ataukah jangan-jangan malah menjadi beban untuk orang lain”. Perasaan seperti ini sering muncul dalam benak kita ketika kita dihadapkan pada banyak hal yang membuat kita harus mengambil suatu keputusan. Bukan hanya itu, kita juga sering dipaksa oleh orang lain untuk membuat keputusan, sehingga hal itu malah menjadi kendala yang berat bagi kita sendiri, karena harus melakukan kehendak orang lain yang kita sendiri tidak menginginkannya.

Hal itu dirasakan oleh Samuel dalam bacaan pertama. Samuel merasakan dilema karena dipaksa oleh tua-tua Israel untuk menentukan penggantinya kelak. Karena tuntutan itu, Samuel pun mengadu kepada Allah. Setelah itu dan melalui perdebatan yang panjang antara Samuel dengan Bangsa Israel yang berkeras hati untuk mendapatkan seorang raja pengganti Samuel, akhirnya melalui Samuel, Allah membiarkan bangsa Israel untuk mencari pemimpinnya.

Berbeda dengan Bangsa Israel, dalam Injil Yesus dihadapkan dengan para ahli Taurat yang berpikir tentang hal negatif terhadap tindakan yang dibuat Yesus. Yesus dihadapkan pada pilihan di mana dia harus memilih untuk menyembuhkan orang yang sakit lumpuh ataukah berdebat dengan para ahli Taurat. Namun di sini, Yesus menunjukkan kebijaksanaan-Nya. Dia sendiri lebih memilih untuk melontarkan pertanyaan kepada para ahli Taurat yang sedang membicarakan-Nya. Keputusan Yesus menyembuhkan orang lumpuh tersebut membuat orang banyak menjadi kagum kepada-Nya, dan mengakui tindakan-Nya berasal dari Allah dan demi kemuliaan Allah.

Oleh karena itu, yang harus kita lakukan adalah mencontohi Yesus. Jika kita dihadapkan pada pilihan hidup, janganlah kita cepat bertindak, tetapi haruslah terlebih dahulu melihat apakah tindakan kita ini baik atau tidak. Sebab tindakan atau keputusan yang baik berasal dari Allah. Itulah sebabnya, Yesus dikatakan sebagai contoh yang tepat untuk kita ikuti. Sekalipun banyak orang tidak menyukai keputusan yang kita buat, tetapi kita pun diharapkan untuk membuat keputusan yang adil dan baik bagi kita sendiri dan juga orang lain.

(Fr.Kristianus Batlayeri)

“Manakah yang lebih mudah, mengatakan kepada orang lumpuh ini, dosamu sudah diampuni, ataukah bangunlah, angkatlah tilammu dan berjalanlah?” (Mrk. 2:9).

Marilah berdoa:

Tuhan, bimbinglah kami agar bijak dalam membuat sebuah keputusan. Amin.

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini