“Mari, ikutlah Aku!” : Renungan, Sabtu 15 Januari 2022

0
1250

Hari Biasa (H)

1Sam. 9:1-4,17-19; 10:1a; Mzm. 21:2-3,4-5,6-7; Mrk. 2:13-17.

Di setiap aktivitas sehari-hari, kita sering berjumpa dengan banyak orang, entah itu di kantor, di rumah maupun di jalan. Setiap perjumpaan itu pasti memiliki makna dan arti yang penting bagi diri kita bahkan dapat merubah hidup kita. Percaya dan yakinlah bahwa Tuhan selalu berkarya dan memiliki rencana tersendiri atas hidup kita, lewat orang-orang di sekitar kita.

Bacaan pertama hari ini menceritakan seorang tokoh bernama Saul yang dipilih Tuhan menjadi raja Israel. Dikisahkan bahwa pada awalnya Saul sedang kebingunan mencari keledai-keledai ayahnya yang hilang. Ia hampir putus asa karena ia tidak menemukan keledai yang hilang itu. Hingga pada akhirnya ia pergi mencari seorang pelihat yang bisa membantunya untuk mencari keledai yang hilang. Tanpa diduga Saul bertemu dengan Samuel dan di sinilah awal perubahan hidup terjadi pada Saul. Siapa sangka bahwa Saul yang merasa diri kecil dan tidak layak itu justru dipilih Tuhan menjadi raja Israel.

Peristiwa yang sama juga terjadi pada diri seorang Lewi yang diceritakan dalam Injil Markus. Lewi adalah nama lain dari Matius yang adalah seorang pemungut cukai. Pekerjaan sebagai pemungut cukai adalah pekerjaan yang dianggap hina dan berdosa di masyarakat Yahudi pada waktu itu. Sebab mereka selalu memungut atau menagih pajak lebih banyak dari yang sebenarnya. Hal ini dilakukan oleh seorang pemungut cukai agar mereka mendapat keuntungan besar dari pekerjaan mereka itu. Itulah sebabnya, pemungut cukai selalu dibenci dan dikucilkan oleh orang-orang sebangsanya.

Tindakan Yesus yang memanggil serta makan di rumah seorang pemungut cukai menjadi kontroversi bagi orang-orang Yahudi. Mengapa Tuhan Yesus harus memanggil orang seperti itu? Padahal Tuhan sendiri tahu mengenai siapa itu Lewi dan profesi yang sedang dikerjakannya. Kecurigaan terjadi juga pada ahli-ahli taurat dari golongan Farisi yang menganggap diri paling benar dan suka sekali menghakimi orang lain.

Menanggapi hal itu, Tuhan Yesus memberikan jawaban yang sangat menohok, sangat memukul orang Yahudi dan ahli-ahli taurat. “Bukan orang sehat yang memerlukan tabib, tetapi orang sakit; Aku datang bukan memanggil orang benar, melainkan orang berdosa”. Tuhan dengan sangat gamblang menjelaskan kepada mereka tentang maksud dan tujuan-Nya datang ke dunia yaitu memanggil orang yang berdosa.

                                                                                                (Fr. Bonefasius sola)

“Bukan orang sehat yang memerlukan tabib, tetapi orang sakit; Aku datang bukan untuk memanggil orang benar, tetapi orang berdosa” (Mrk. 2: 17).

Marilah berdoa:

Ya Tuhan, gerakkan hati kami untuk menjawab panggilan-Mu. Amin.

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini