“Kejujuran”: Renungan, Jumat 28 Januari 2022

0
1908

Pw S. Tomas Aquino, ImPujG (P)

2Sam. 11:1-4,5-10a,13-17; Mzm. 51:3-4,5-6a,6bc-7,10-11; Mrk. 4:26-34.

Dalam kehidupan masyarakat Yahudi pada umumnya, benih atau biji-bijian merupakan hal utama dalam bercocok tanam.  Hal inilah yang membuat seorang pengolah tanah  yang baik bisa membedakan mana benih yang baik dan mana benih yang tidak baik. Benih atau biji-bijian dalam Injil Matius diartikan penulis  sebagai Firman. Firman inilah yang menuntun seseorang dalam bertindak. Tindakan yang baik melahirkan sikap yang jujur sedangkan tindakan buruk yang melawan kejujuran melahirkan dusta. Perumpamaan yang diceritakan Yesus ini merupakan bentuk pengajaran-Nya kepada murid-murid tentang bagaimana sosok pemimpin yang sejati. Yesus mengharapkan agar murid-murid-Nya menjadi pemimpin yang demikian. Nah salah satu cirinya ialah pemimpin yang memiliki kejujuran.

Bacaan pertama memperlihatkan bagaimana ketidakjujuran yang dibuat oleh Daud sebagai sosok pemimpin yang dikagumi oleh orang Israel pada masanya. Ketikdakjujuran yang sama sering kali membuat kita gelap mata atau salah bertindak seperti yang diperlihatkan Raja Daud yang menempatkan Uria di barisan paling depan  dalam peperangan agar ia mati terbunuh.  Tindakan seperti inilah yang terkadang kita gunakan untuk menutup kebenaran atau dengan kata lain membenarkan diri kita agar terlihat benar di depan orang lain, padahal hal itu dilakukan untuk mengikuti nafsu yang tidak teratur dan keegoisan yang ada dalam diri.

Penginjil  Markus melukiskan bahwa kejujuran lahir dengan sendirinya; artinya bahwa semesta menghadirkan orang-orang yang jujur yang muncul tanpa diduga. Namun begitu kejujuran mesti lahir dari diri setiap pribadi. Hal itu diumpamakan dalam perumpamaan biji sesawi sebagai Kerajaan Allah yang hadir kepada manusia. Kerajaan Allah itu hadir dalam beragam bentuk seperti kejujuran yang harus dikembangkan oleh manusia. Ibarat biji sesawi yang kecil jika dipupuk dan dikembangkan mampu membungkam orang-orang yang tidak jujur dan menghasilkan orang-orang yang benar-benar jujur.

Itu juga dapat dilihat dari sosok Santo Thomas Aquinas yang diperingati hari ini. Ia adalah salah satu sosok pemimpin yang baik. Gereja Katolik menghormati Aquinas sebagai guru teladan bagi mereka yang belajar untuk menjadi imam dan para teolog serta filsuf.  Ia pernah berkata, “Untuk mengetahui kebenaran apa saja, kita sebagai manusia membutuhkan pertolongan ilahi supaya intelek dapat digerakkan oleh Allah untuk bertindak”.  Oleh karena itu sebagai umat beriman kita diharapkan mampu menjadikan Allah sebagai penuntun kita dalam bertindak. Dengan demikian, kejujuran akan selalu menjadi bagian dari hidup kita dan kebenaran dalam kebajikan menjadi pedoman hidup kita agar dengan itu kita beroleh keselamatan dalam Kerajaan Allah.

(Fr. Yosep Setitit)

“Beginilah halnya Kerajaan Allah: Kerajaan Allah itu seumpama orang yang menaburkan benih di tanah” (Mrk. 4:26).

Marilah berdoa:

Ya Tuhan, bantulah kami agar dapat menjadi orang yang jujur dalam setiap perbuatan kami. Amin.

 

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini