“Kau Kukasihi”: Renungan, Senin 31 Januari 2022

0
1639

Pw S. Yohanes Bosco, Imam (P)

2Sam. 15:13-14,30; 16:5-13a; Mzm 3:2-3.4-5.6-7; Mrk. 5:1-20.

Daud memperlihatkan kasih terhadap rakyat dan para pegawainya. Ia tidak ingin rakyatnya celaka di tangan Absalom. Ia membawa rakyatnya mendaki bukit Zaitun. Dalam pendakian pun baik Daud maupun rakyatnya, mereka menangis bersama-sama. Tidak ada orang yang bergembira di atas kesedihan orang lain. Semua dari mereka merasakan kesedihan yang sama. Kasih akan selalu mengekspresikan dirinya dalam persatuan rasa. Jika orang lain menangis, menangislah bersama dia. Jika orang lain bersukacita, bersukacitalah bersama dia.

Tetapi di balik peristiwa kasih itu, masih ada saja orang yang tidak simpati terhadap kesedihan orang lain. Simei bin Gera mendatangi Daud dan mulai mengutuknya terus-menerus. Bahkan ia juga melempari Daud dan semua pegawainya. Tetapi atas dasar kepercayaan Daud terhadap Tuhan, ia menyerahkan hidupnya ke dalam tangan Tuhan. Karena kesadaran dan penyerahan diri inilah yang membuat Daud tidak membalas kutukan dan lemparan itu. Bahkan peristiwa itu dimaknainya sebagai jalan Tuhan untuk memberikan yang terbaik bagi dirinya: “Mungkin Tuhan akan memperhatikan kesengsaraanku ini dan Tuhan membalas yang baik kepadaku sebagai ganti kutuk orang itu pada hari ini” (2Sam. 16:12).

Yesus pun memperlihatkan tindakan kasih terhadap seorang yang kerasukan setan. Tindakan kasih itu terlihat ketika Yesus mengusir setan dari diri orang Gerasa. Orang itu akhirnya bisa duduk dengan tenang, sudah berpakaian, dan juga sudah kembali waras. Kelihatan bahwa Yesus sungguh lembut dan ramah dalam memperlakukan orang itu. Suasananya terasa nyaman dan damai. Dan oleh karena perlakuan Yesus yang demikian, akhirnya ketika Yesus hendak pergi, orang Gerasa itu ingin mengikuti-Nya.

Tetapi di balik perjumpaan kasih yang begitu indah itu, ada saja orang yang tidak suka terhadap hal tersebut. Yesus pergi bukan tanpa alasan. Ia diusir oleh orang-orang yang melihat peristiwa itu. Mereka ketakutan. Dan karena takut, mereka akhirnya mengusir Yesus. Yesus pun langsung naik ke perahu. Dia tidak mengomentari apapun soal tindakan orang-orang yang mengusir Dia. Dia hanya berpesan kepada orang Gerasa itu untuk mewartakan tindakan kasih Tuhan kepada sesamanya. Sepertinya Yesus ingin mengajarkan  kasih kepada orang-orang yang mengusirNya lewat pewartaan orang Gerasa itu.

Bukan hanya orang Gerasa. Lewat mimpi, Yesus juga meminta St. Yohanes Bosco yang kita peringati hari ini untuk mewartakan kasih Yesus itu kepada anak-anak muda: “Kamu akan berhasil memenangkan hati anak-anak muda yang nakal ini bukan dengan tonjokkan dan kekerasan. Kamu bisa memenangkan jiwa mereka hanya dengan kelemahlembutan dan cinta.” Sudahkah kita berbuat kasih kepada sesama? Cobalah tindakan kasih itu bersama Yesus, maka hidup kita akan diliputi kedamaian.

(Fr. Andreas Masaroni)

“Beritahukanlah kepada mereka segala sesuatu yang telah diperbuat oleh Tuhan atasmu dan bagaimana Ia telah mengasihani engkau” (Mrk. 5:19).

Marilah berdoa:

Ya Tuhan Sumber segala kasih, ajarkanlah kasih-Mu kepada kami umat-Mu. Amin.

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini