“Iman Orang-orang Kafir”: Renungan, Minggu 2 Januari 2022

0
1949

HARI RAYA PENAMPAKAN TUHAN (P)

Yes. 60:1-6; Mzm. 72:1-2,7-8,10-11,12-13; Ef. 3:2-3a,5-6; Mat. 2:1-12.

Ada yang menyamakan hal beriman dengan mengakui ajaran agama dan isi Kitab Suci. Mereka menjadikan pengetahuan mengenai ajaran agama dan isi Kitab Suci sebagai ukuran keimanan seseorang. Konsekuensinya, orang beriman adalah mereka yang memiliki pengetahuan akan ajaran agama dan isi Kitab Suci. Dalam arti ini para pengajar agama dan ahli Kitab Suci dipandang sebagai orang-orang yang paling beriman. Karena itu orang-orang berusaha menjadi ahli Kitab dan pengajar agama supaya mendapat pengikut. Selanjutnya, para pengikut ini bersama gurunya merasa sebagai orang beriman sejati. Lebih dari itu, mereka menganggap orang di luar groupnya sebagai orang kafir atau penyembah jin kafir, yang harus dihindari dan pantas dilenyapkan. Dengan anggapan yang sama, nabi Yunus pernah menolak mewartakan pesan Tuhan kepada orang-orang Niniwe yang dipandang kafir dan pantas dibinasakan oleh murka Allah.

Demikianlah sikap beberapa orang Yahudi sampai saat kedatangan Yesus. Mereka membanggakan diri sebagai anak Abraham dan murid Musa. Sehingga Yesus, yang mewartakan Allah sebagai Bapa dan menyatakan diri-Nya datang dari Bapa sebagai pemenuhan Hukum Musa, dianggap kerasukan jin dan dipandang sebagai penyesat rakyat yang pantas dilenyapkan. Sekarangpun masih ada guru agama dan pengikutnya yang membanggakan diri sebagai orang beriman sejati dan radikal. Dalam pengajarannya, mereka senang menghina dan mengejek orang lain sebagai kafir yang rumah masa depannya ada di neraka jahanam.

Peristiwa Penampakan Tuhan membawa kejutan dan pencerahan yang mengguncang dasar keyakinan iman semacam itu. Orang-orang yang dianggap kafir tiba-tiba muncul di Yerusalem dengan pengenalan dan keyakinan iman serta semangat ibadat dan sembah bakti yang tidak dimiliki penduduk Kota Suci itu. Mereka melihat tanda bintang di langit yang memberitakan kelahiran Mesias, Raja baru, di Israel. Mengikuti tanda itu, mereka datang untuk menyembah Mesias. Namun bintang pemandu itu hilang saat mereka masuk ke kota Yerusalem. Karena itu mereka bertanya-tanya kepada penguasa politik dan pemimpin agama serta ahli Kitab Suci, tentang tempat dimana Mesias dapat dijumpai dan disembah.

Kedatangan mereka mengejutkan seluruh Yerusalem, pusat agama Yahudi, tempat Bait Allah dan kota kediaman orang-orang Yahudi yang merasa diri paling beriman. Di sana ada raja, para imam dan ahli-ahli Kitab, para penjaga iman dan harapan Israel akan kedatangan Mesias. Mereka terkejut karena orang-orang bukan penganut agama dan ajaran Kitab Suci Yahudi, atau kafir justru mengenali tanda kelahiran Mesias dan datang untuk menyembah Raja Israel yang baru lahir. Pengenalan dan hasrat serta usaha sedemikian itu tidak terdapat di antara penduduk Yerusalem sebagai bangsa terpilih dan pewaris janji kedatangan Masias.

Pengenalan orang kafir akan tanda kelahiran Mesias dan keyakinan serta perjuangan mereka untuk datang menyembah-Nya mengejutkan seluruh Yerusalem. Ternyata Mesias terjanji, yang menjadi iman dan harapan Israel selama berabad-abad sudah datang. Penduduk Yerusalem tidak mengetahui bahwa Allah telah memenuhi janji-Nya. Mereka sibuk mengajarkan dan menantikan Mesias tetapi tidak bisa membaca tanda-tanda kedatangan-Nya. Mereka hanya terbuai oleh para pengajar yang memberi rasa nyaman dan kepastian serta jaminan palsu tentang keselamatannya.

Semua ajaran dan ritual kurban, yang mereka banggakan tidak memampukan mereka mengenal kehadiran Mesias. Mereka mengetahui Mesias sebagai ajaran tetapi tidak mengenal Dia, sebagai Tuhan atas hidup nyata di luar ibadat. Bagi mereka, Mesias adalah sebuah doktrin iman dan ajaran Kitab, sehingga mereka tidak perlu mencari dan menyembah Dia. Iman seperti ini setara dengan iman iblis, mengetahui siapa Allah, siapa Yesus tetapi tidak mencintai dan tidak menyembah-Nya dengan peri hidup mereka.

‘Bintang Pemandu’ bukanlah para penghafal ayat Kitab Suci, dan petugas ritual peribadatan serta pencandu seremoni dan KKR, tetapi para pengamal iman. Mereka yang menjadikan ajaran agama dan isi Kitab Suci sebagai terang dan spirit hidup serta tuntunan perilaku. Seorang Penuntun tidak saja menggurui dengan ajaran, tetapi dengan teladan hidup, menuntun sesama kepada Allah. Orang yang memuji dan memuliakan Allah bukan dengan bibir saja, tetapi hidup menurut ketetapan dan hukum-Nya. Mereka menuntut sesama dengan teladan dan kesaksian hidup.

Demikianlah kedatangan orang kafir menantang iman penduduk Yerusalem dan setiap orang beriman. Menyembah Yesus tidak cukup menghafal ayat-ayat Kitab Suci dan mengejek serta menista orang lain dalam acara-acara keagamaan. Yesus menjadikan agama dan Kitab Suci sebagai bintang terang penuntun dan spirit hidup dengan melaksanakannya secara tekun dan setia sampai tuntas. Bersama Dia setiap orang beriman dapat menuntun sesamanya dengan cara hidup berpadanan dengan iman. Hidup beriman berarti berjalan menuju Allah dan menyembah Allah secara benar dengan segenap kekuatan, akal budi dan hati serta jiwa dan raga. Itulah ukuran kualitas iman dan ibadat seorang. Gloria Dei vivens homo!

(RD. Julius Salettia)

“Di manakah Dia, raja orang Yahudi yang baru dilahirkan itu? Kami telah melihat bintang-Nya di Timur dan kami datang untuk menyembah Dia” (Mat. 2:2).

 

Marilah berdoa:

Ya Tuhan, terangilah kami dengan terang kebijaksanaan-Mu, agar dengan tingkah laku dan perbuatan kami sehari-hari kami dapat juga menjadi bintang penerang dan penuntun sesama kami menuju kepada-Mu. Amin.

 

 

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini