Hari Biasa (H)
1 Sam. 16:1-13; Mzm. 89:20,21-22,27-28; Mrk. 2:23-28.
Dalam kehidupan, kita selalu diperhadapkan dengan berbagai macam aturan yang mengatur segala hal yang hendak dilakukan, mulai dari segi sosial, rohani, ekonomi, politik dan sebagainya. Semua itu bertujuan agar orang dapat menjalankan sesuatu dengan semestinya dan tidak ada kekacauan yang terjadi dalam kehidupan. Aturan-aturan itu sifatnya mengikat dan harus dilaksanakan oleh semua orang tanpa terkecuali.
Bacaan Injil hari ini bercerita tentang Yesus yang bersoal-jawab dengan orang-orang Farisi tentang murid-murid yang memetik gandum pada hari Sabat. Orang-orang Farisi yang taat akan aturan hari Sabat, memandang perbuatan para murid Yesus sebagai tindakan yang salah dan melanggar aturan yang ada. Orang Farisi melihat perbuatan para murid sebagai tindakan yang salah dan melawan hukum, sebab bagi mereka hukum adalah hal yang paling penting dari segala sesuatu yang ada, tanpa melihat nilai positif apa yang dilakukan oleh para murid. Hal ini dilakukan oleh orang Farisi karena membenci Yesus dan pengikutnya.
Terkadang dalam kehidupan, kita juga sering berperilaku sama seperti orang-orang Farisi yang memandang aturan sebagai hal yang paling utama dibandingkan dengan hal lainnya. Kita menggunakan aturan sebagai senjata untuk menghakimi orang lain, kita menggunakan hukum sebagai alat untuk mengadili orang lain, tanpa kita sadar bahwa ada hal yang lebih penting dari sebuah aturan dan hukum.
Cara yang demikian kemudian ditanggapi oleh Yesus dalam Injil dengan berkata, “Hari Sabat diadakan untuk manusia dan bukan manusia untuk hari Sabat”. Perkataan Yesus kepada orang Farisi itu, mengandung makna yang jelas bahwa hukum dan aturan itu ada untuk manusia dan menolong manusia untuk berbuat baik. Namun menjadi tidak baik jika manusia menggunakan hukum itu semaunya dan membuat hukum yang merugikan orang lain. Perbuatan yang demikian menunjukan sikap yang tidak adil, serakah, rakus dan bertindak egois.
Yesus selalu melawan perbuatan yang demikian, sebab hal demikian tidak mencerminkan perbuatan kasih terhadap orang lain. Menjadi pertanyaan bagi kita orang Kristen, apakah kita sudah mampu mengikuti dan melaksanakan hukum yang telah ditetapkan Gereja bagi kita? Atau apakah kita akan terus bertindak sama seperti orang-orang Farisi yang menggunakan hukum dalam bentuk yang salah?
(Fr. Yeremias Tawuratubun)
“Hari Sabat diadakan untuk manusia dan bukan manusia untuk hari Sabat” (Mrk. 2:27).
Marilah berdoa:
Tuhan, ajarilah aku agar aku menjadi taat terhadap-Mu sebagai sumber kebenaran. Amin











