“Hidup adalah Persatuan”: Renungan, Minggu 16 Januari 2022

0
1961

Minggu Biasa II (H)

Yes. 62:1-5; Mzm. 96:1-2a, 2b-3, 7-8a, 9-10ac; 1Kor. 12:4-11; Yoh. 2:1-11.

Pada hakikatnya perbedaan manusia dipandang sebagai ciptaan yang unik oleh Allah sehingga perbedaan tidak membuat setiap pribadi terpisah dari rencana keselamatan dan kasih Allah yang hendak diwujudkan. Konsekuensi terpenting dari hal itu adalah persatuan menjadi dasar pengikat setiap aspek kehidupan manusia yang memiliki tujuan yang sama demi kemuliaan Tuhan.

Bacaan hari ini memberikan dua unsur terpenting dari persatuan itu yakni pertama, hidup dalam persatuan selalu memiliki tujuan yakni setiap orang dipanggil Allah untuk menyaksikan kemuliaan-Nya yang akan dinyatakan kepada kita. Unsur kedua dari persatuan adalah kita dipanggil memiliki sikap dan tindakan solider dalam menata hidup yang bermakna bagi Allah dan bagi sesama dan seluruh alam ciptaan.

Kedua unsur ini hendak mempertegas apa yang dikatakan oleh Rasul Paulus yakni ada beragam anugerah yang dicurahkan Kristus kepada Gereja dan seluruh umat manusia agar kita melihat kemuliaan Allah yang penuh kasih. Peran Roh Kudus yang mempersatukan perbedaan dengan segala macam karunia yang kita terima masing-masing bertujuan agar dalam keunikan kita dapat melihat cinta kasih Allah yang tak ada batas. Itu berarti, hidup dalam persatuan dengan Kristus menyanggupkan kita melihat kemuliaan Allah yang terlaksana dalam diri kita baik itu kemampuan, karakter, maupun pengetahuan yang ada dalam diri kita.

Bacaan hari ini juga menyadarkan kita akan peranan Tritunggal dan Bunda Maria yang mengharapkan agar kesatuan itu dapat mewujudkan buah sukacita dan rahmat bagi Gereja dan seluruh umat agar semua mengalami kepenuhan dalam rencana Allah yang mengasihi dan mencintai manusia. Dengan kata lain, mengeksklusifkan perbedaan adalah cara yang tak bermartabat untuk mewujudkan rencana Allah agar semua orang dapat melihat kemuliaan-Nya. Hal ini mengingatkan akan gambaran dunia masa kini yang ditandai oleh beragam perbedaan baik itu suku, agama, ras, budaya dan bahasa, untuk tetap memperjuangkan persatuan di tengah keberagaman dan keunikan yang ada. Solusi untuk mewujudkannya adalah dengan membangun cara hidup yang bermartabat dengan siapa saja, misalnya dialog agar perbedaan tidak menghalangi kenyataan kita untuk bersatu dengan Allah, kebenaran-Nya, dan cinta-Nya yang tak habisnya.

(Fr. Edo Salilo)

“Ada rupa-rupa pelayanan, tetapi hanya ada satu Tuhan » (1Kor. 12:5).

Marilah berdoa:

Ya Tuhan, semangatilah kami untuk selalu mewujudkan persatuan di dalam kehidupan kami. Amin.

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini