“Ketekunan dalam Berdoa”: Renungan, Rabu 22 Desember 2021

0
1538

 

Hari Biasa Khusus Adven (U).

BcE 1Sam. 1:24-28; MT 1Sam. 2:1,4-5,6-7,8abcd; Luk. 1:46-56.

Saudara-saudari yang terkasih dalam Tuhan kita Yesus Kristus, dalam bacaan yang pertama diceritakan tentang Hana, yang mempersembahkan Samuel anaknya kepada Tuhan. Ia mempersembahkan harta terindahnya kepada Tuhan bukan tanpa alasan, tetapi karena Tuhan sangat mengasihinya dan mengabulkan permintaannya. Maka ia dengan hati yang tulus dan murni mempersembahkan anaknya tersebut. Kebaikan yang diberikan oleh Tuhan dibalas dengan cara menyembah dan memuji-Nya dengan pujian yang begitu indah. Di mana, hal itu nampak dalam apa yang dilakukannya terhadap Samuel, anaknya.

Dalam bacaan Injil dikisahkan tentang bunda Maria yang dengan penuh sukacita menungkapkan rasa syukurnya dengan menyanyikan kidung pujian bagi Allah Bapa di surga. Kidung tersebut sesungguhnya hendak menyatakan mengenai iman kepercayaan Maria yang begitu mendalam kepada Tuhan. Sebab, di dalam kesederhanaan hidupnya Tuhan menganugerahkan rahmat yang tiada tara kepadanya. Bagaimana tidak, sebab kita mengenal Maria sebagai orang biasa bukan seorang bangsawan. Akan tetapi, Tuhan tetap memilihnya untuk mengandung Putera-Nya yang nanti akan menjadi penyelamat dunia. Nah, lewat rahmat yang diterimanya, Maria dengan penuh rasa syukur menyanyikan kidung pujian sebagai ungkapan sembah sujud kepada Tuhan yang telah mengasihinya.

Saudara-saudari yang terkasih dalam Tuhan kita Yesus Kristus, Maria mengajarkan kepada kita semua bahwa kita harus selalu berdoa dan bersyukur kepada Tuhan atas rahmat dan berkat yang selalu kita terima. Syukur tersebut haruslah diwarnai dengan sukacita yang mendalam. Sukacita itu tercermin dalam kata-katanya, “Jiwaku memuliakan Tuhan, dan hatiku bergembira karena Allah, Juruselamatku” (Luk. 1:46-47). Maka sudah sepatutnyalah bahwa kita semua meneladani kehidupan Maria yang tidak pernah berhenti berharap dan berdoa kepada Tuhan. Begitu pula dengan Hana yang dengan penuh kepercayaan dan harapan meminta agar diberikan anak oleh Tuhan. Pada akhirnya, Tuhan menunjukkan kuasa-Nya dengan memberikan seorang putra kepadanya. Dengan demikian, kita juga harus berdoa dengan penuh kepercayaan dan keyakinan kepada Tuhan bahwa Ia pasti akan mendengarkan permohonan kita. Di mana, Bunda Maria menjadi teladan yang sempurna bagi kita semua umat beriman dalam hal berdoa dan kepasrahan diri kepada Tuhan. Sebab, Dial-ah satu-satunya sumber harapan dan penyelamat kita.

(Fr. Mario Ngantung)

“Jiwaku memuliakan Tuhan, dan hatiku bergembira karena Allah, Juruselamatku” (Luk. 1:46-47).

Marilah berdoa:

Ya Tuhan, buatlah kami mampu meneladani hidup bunda Maria, yang penuh ketekunan akan hal berdoa dan kepasrahan hidup kepada Tuhan. Amin.

 

 

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini