“Keraguan dan Iman” : Renungan, Rabu 15 Desember 2021

0
1474

Hari Biasa Pekan III Adven (U)

Yes. 45:6b-8,18,2-21b-25; Mzm. 85:9ab-10, 11-12, 13-14; Luk. 7:19-23.

“Pergilah, dan katakanlah kepada Yohanes apa yang kamu lihat dan kamu dengar”. Saat ini untuk menyatakan suatu kebenaran, maka kita harus memiliki bukti yang kuat secara fisik agar orang dapat mempercayai apa yang kita sampaikan. Bukti menjadi senjata kebenaran saat ini di mana kita tidak menilai kebenaran dari sudut pandang iman, melainkan dari sudut pandang akal manusia. Suatu kebenaran dinyatakan benar apabila dapat dibuktikan secara langsung.

Bacaan Injil hari ini dengan jelas menyampaikan suatu pemahaman kepada kita semua tentang keraguan yang diperlihatkan oleh murid-murid Yohanes Pembaptis. Keraguan kepada Yesus mengakibatkan ketidakpercayaan yang berdampak pada iman mereka. keraguan adalah bagian dari kendornya iman murid-murid Yohanes Pembabtis. Hal itu dibuktikan lewat tindakan mereka yang bertanya kepada Yesus “Engkaukah yang akan datang itu atau haruskah kami menantikan seorang lain?” Ini merupakan bentuk keraguan kepada Yesus. Mereka datang dan melihat mukjizat yang dilakukan oleh Yesus agar iman mereka kembali diteguhkan.

Percaya kepada Yesus adalah sebuah kebenaran yang ditampilkan oleh-Nya. Mukjizat-mukjizat yang Yesus perbuat semakin memperkuat iman setiap orang. Banyak orang menjadi percaya kepada Yesus, namun ada juga yang meragukan apakah Yesus benar-benar anak Allah. Untuk membuktikan kebenaran, Yesus menyuruh para Murid Yohanes untuk melihat mukjizat yang Yesus perbuat agar penilaian dari sudut pandang manusiawi mereka dapat dibenarkan. Hal tersebut sangat keliru. Karena untuk mengikuti Yesus kita harus beriman dan percaya akan sabda yang diwartakan oleh-Nya. Iman adalah kunci untuk mengikuti Yesus karena melalui iman kita mendekatkan diri dengan Tuhan tanpa berpikir melalui sudut pandang manusiawi. Beriman kepada Tuhan adalah suatu ikatan batin yang penuh karena kita menyerahkan diri seutuhnya kepada Kristus. Yesus pernah berkata, “Berbahagialah mereka yang tidak melihat namun percaya”. Beriman yang dimaksudkan adalah kita menyerahkan seluruh jiwa dan raga seutuhnya pada Kristus karena melalui iman kita dapat diselamatkan.

Apakah untuk mengikuti Yesus kita harus mengikuti akal sehat kita ataukah kita beriman dan percaya pada ajaran kristus. Percaya akan sabda Yesus jauh lebih mulia dan benar daripada percaya terhadap sesuatu yang kelihatan tetapi menyesatkan. Sabda Yesus tidak berbentuk namun menyegarkan jiwa dan menyelamatkan. Percaya akan sabda adalah bentuk dari iman. Sebab itu marilah kita dengan iman percaya agar firman Allah bergema dalam hati untuk keselamatan semua orang.

(Fr. Wensislaus Nowinrian)

 “Pergilah, dan katakanlah kepada Yohanes apa yang kamu lihat dan kamu dengar” (Luk. 7:22).

Marilah berdoa:

Ya Allah, tambahkanlah iman kami agar semakin percaya kepada-Mu. Amin

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini