Hari Minggu Adven IV (U)
Mi. 5:1-4a; Mzm. 80:2ac,3b,15-16,18-19; Ibr. 10:5-10; Luk. 1:39-45.
Hari ini kita membaca dari Kitab Ibrani bahwa ketika memasuki dunia Kristus bersabda, “Engkau telah menyediakan tubuh bagiku.”(Ibr. 10:5). Putera Allah yang menjadi manusia membutuhkan tubuh manusia untuk berinkarnasi, karena Putera Allah adalah Roh atau Logos yang Mahakuasa, kekal dan tidak dapat mati. Namun ketika Putera Allah itu menjadi manusia, ia mengenakan tubuh manusiawi kita yang fana, lemah dan dapat mati. Itulah mengosongkan diri Allah yang tidak terbatas dan menunjukkan cinta kasih-Nya kepada umat manusia. Dalam keadaannya sebagai manusia itu, Yesus Kristus mempersembahkan diri-Nya sebagai ganti kurban bakaran dan kurban penghapus dosa.
Kita perlu mengetahui bahwa menurut orang Ibrani atau orang Yahudi, kurban penghapus dosa dilaksanakan dengan cara mempersembahkan kurban bakaran anak domba, sapi dan hewan lainnya seperti biasa dipersembahkan sejak bapa Abraham dan keturunannya. Namun kitab Ibrani sendiri membatalkan kurban-kurban itu dan menyatakan bahwa kurban Kristus adalah kurban penghapus dosa yang sesungguhnya. “Kurban dan persembahan, kurban bakaran dan kurban penghapus dosa tidak Engkau kehendaki dan Engkau tidak berkenan kepadanya.” Meskipun kurban itu dipersembahkan menurut hukum Taurat. Kita telah dikuduskan satu kali untuk selama-lamanya oleh persembahan tubuh Yesus Kristus.
Firman Tuhan dari Kitab Ibrani yang kita dengarkan hari ini sungguh tepat untuk mempersiapkan diri menyambut perayaan kedatangan Tuhan Yesus yang akan lahir ke dunia sebagai manusia. Yesus datang untuk melaksanakan kehendak Bapa yaitu untuk menyelamatkan umat manusia. Yesus Putera Allah hidup sebagai manusia dengan mengenakan tubuh kemanusiaan kita dan mempersembahkan-Nya kepada Allah sebagai kurban silih penghapus dosa.
Misteri cinta kasih Allah yang agung dan mulia ini sudah diterima dan disyukuri oleh para wanita suci yang berperan langsung dalam kedatangan Putera Allah ke dunia ini. Maria yang membawa bayi Yesus dalam kandungannya dan Elisabet yang mengandung Yohanes Pembaptis penuh dengan Roh Kudus dan mengagungkankan puji–pujian kepada Allah atas karya–karya besar yang sedang terjadi. Elisabet sudah mengerti siapa yang datang dan ia berseru, “Siapakah aku ini, sehingga ibu Tuhanku datang mengunjungi aku?” Dan Maria menjawab dalam bacaan lanjutkan dari Injil Lukas itu, “Jiwaku memuliakan Tuhan, dan hatiku bersukaria karena Allah Juru Selamatku. Mulai sekarang aku disebut berbahagia oleh sekalian bangsa.”
(Romo Albertus Sujoko MSC)
“Engkau telah menyediakan tubuh bagiku” (Ibr. 10:5).
Marilah berdoa :
Bapa, semoga kita semua pantas dan layak untuk bersukacita menyambut kedatangan Sang Juru selamat yang lahir untuk kita. Amin.











