Pw S. Carolus Borromeus, UsK (P).
Rm. 14:7-12; Mzm. 27:1,4,13-14; Luk. 15: 1-10.
Kita sebagai umat beriman tentunya percaya bahwa kehidupan dan kematian sepenuhnya ditentukan oleh Tuhan. Sekarang ini, kita diperhadapkan dengan berbagai tantangan hidup yang begitu berpengaruh terhadap iman kepercayaan kita akan Yesus Kristus. Baik itu pengalaman pribadi kita, maupun juga berkaitan dengan lingkungan masyarakat kita. Dalam keadaan yang demikian, tentu kita dapat melihat kekurangan dan kelebihan orang lain yang nampak dalam kehidupan sehari-hari. Bisa saja kita melihat kekurangan dan kelebihan orang lain sebagai bahan acuan bagi kita untuk dapat berkaca dan memperbaiki diri sendiri.
Bacaan pertama hari ini mengisahkan perihal larangan untuk tidak menghakimi sesama kita. Kehidupan maupun kematian tidaklah untuk diri sendiri melainkan dari Tuhan. Sebab seluruh kehidupan kita dan akhirnya kematian kita pun adalah milik Tuhan. Kepenuhan yang sempurna dapat kita lihat pada pribadi Yesus Kristus, di mana Ia sendiri menjadi manusia dan wafat, kemudian bangkit. Untuk itulah Ia berkuasa atas orang-orang hidup maupun orang-orang mati. Karena hidup maupun mati tujuannya adalah Tuhan, maka kita sendiri patut untuk hidup seperti Dia yang tidak menghakimi orang lain.
Bacaan Injil hari ini mengisahkan bagaimana Yesus bersama dengan pemungut cukai dan orang-orang berdosa. Hal itu menimbulkan rasa iri hati dari orang-orang Farisi dan ahli-ahli Taurat sehingga mereka bersungut-sungut. Yesus dengan caranya menegur mereka. Terkadang kita sangat mudah melihat kekurangan dan kelemahan orang lain tanpa melihat kekurangan yang ada pada diri kita. Bukankah lebih baik bagi kita untuk terus membina diri dan juga membantu orang lain yang masih terpenjara di dalam iman yang dangkal? Sebab tentunya manusia tidak luput dari dosa dan kesalahan, maka pertobatan adalah lebih baik daripada iri hati terhadap orang lain. Sebab Yesus sendiri sebagai gembala, tidak pernah membiarkan dombanya hilang begitu saja ataupun berjalan tanpa arah. Sebab Ia sendirilah yang berkuasa atas kehidupan begitu pula kematian.
(Fr. Angky Rahayaan)
“Aku berkata kepadamu: Demikian juga akan ada sukacita di sorga karena satu orang berdosa yang bertobat, lebih dari pada sukacita karena sembilan puluh sembilan orang benar yang tidak memerlukan pertobatan” (Luk. 15:7).
Marilah berdoa:
Ya Tuhan Yesus, ajarkanlah kami untuk untuk selalu taat kepada-Mu dan sadarkanlah kami untuk selalu bertobat ketika kami berbuat dosa. Amin.











