“Memelihara Kesetiaan”: Renungan, Sabtu 6 November 2021

0
1716

Hari biasa (H)

Rom. 16:3-9.16,22-27; Mzm. 145:2-3.4-5.10-11; Luk. 16:9-15

Bacaan pertama mengisahkan Rasul Paulus yang dengan hangatnya menyapa rekan-rekan sekerjanya yang berada di Roma. Dari cara ia menyampaikan salam nyata bahwa ia menyadari betapa berartinya persekutuan dengan mereka. Paulus sangat menghargai pengabdian rekan-rekannya kepada Tuhan guna melayani jemaat. Dalam persekutuan Kristen, setiap orang dengan latar belakang yang berbeda-beda akhirnya boleh menikmati kasih karunia Tuhan dalam kasih persaudaraan.

Dalam Injil hari ini, Yesus berbicara tentang “Kesetiaan”. Ia berkata, “Barang siapa setia pada perkara-perkara kecil, ia setia juga dalam perkara-perkara besar”. Ajaran dari Yesus ini sangat sederhana, semua orang dapat melakukan hal ini. Hanya saja yang dibutuhkan adalah sikap konsisten dan kesabaran dalam melakukannya. Jika tidak, maka akan susah.

Pernyataan Yesus itu mau menegaskan beberapa poin yang sangat penting bagi kita dalam hubungan dengan kesetiaan. Pertama, kesetiaan itu perlu latihan yang terus menerus. Banyak orang berbicara sangat banyak tentang kesetiaan, tetapi dalam pelaksanaan, banyak orang masih gagal dan susah untuk setia. Kesetiaan itu tidak hanya sekali jadi. Jika seseorang sudah terbiasa setia dengan hal-hal yang sederhana, pasti orang tidak susah untuk setia pada hal-hal besar dan lebih luas.

Kedua, kesetiaan tidak sama dengan kemampuan untuk bertahan tetapi kesetiaan itu berkaitan dengan semangat mencintai apa yang dialami dan dijalani dalam hidup. Orang yang memilih untuk bertahan bisa saja ia mau untuk melaksanakan tugas dan kewajibannya tetapi bukan dengan semangat mencintai dan menyerahkan diri.

Seseorang bisa saja memilih untuk terus bertahan dengan jalan menahan rasa sakit, benci, dengki, dendam serta amarah. Kesetiaan yang dimaksudkan adalah kesetiaan yang selalu menganggap tantangan, kesusahan, penderitaan, sebagai hal yang memacu dia untuk mengabdi lebih penuh, lebih sabar, lebih bersemangat, lebih tulus dan berserah diri pada tugas dan tanggung jawab yang diterima.

Injil hari ini mengajak kita untuk mulai “melatih diri untuk setia mulai dari hal-hal sederhana”. Alasannya sangat sederhana yakni keberhasilan untuk setia pada hal-hal sederhana membuat orang mampu bertanggungjawab dan setia pada hal-hal lain yang lebih besar. Mari kita berusaha untuk melatih diri kita untuk mulai setia pada apa yang ada dalam hidup kita sehari-hari.

(Fr. Steven Baradi)

“Barang siapa setia dalam perkara-perkara kecil, ia setia juga dalam perkara-perkara besar” (Luk. 16:10).

Marilah berdoa:

Tuhan, berikanlah kami kesetiaan yang sejati, sehingga kami dapat mengabdi kepada-Mu dengan setia. Amin.

 

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini