“Cinta & Tulus Hati Memberi” : Renungan, Minggu 7 November 2021

0
1876

Hari Minggu Biasa XXXII (H)

1Raj. 17:10-16; Mzm. 146:7,8-9a,9bc-10; Ibr. 9:24-28; Mrk. 12:38-44

Kita bisa membayangkan kehidupan seorang janda. Janda dapat diartikan sebagai perempuan yang tak lagi memiliki suami, baik karena perceraian maupun ditinggal mati oleh pasangannya. Ia akan mencari nafkah sendiri untuk menghidupi keluarganya, dirinya dan anak-anak. Bagi seorang janda kaya, secara ekonomi pasti ia tidak akan mengalami kesulitan dalam pemenuhan kebutuhan setiap hari. Berbeda dengan janda yang miskin, pasti ia akan membanting tulang, bekerja keras untuk memenuhi kebutuhannya setiap hari.

Injil hari ini mengisahkan cerita mengenai janda miskin. Pemberiannya tidak besar tetapi justru dipuji oleh Tuhan. Diceritakan dalam Injil Markus, Tuhan Yesus  mengamati setiap orang yang datang ke Bait Allah dan memberikan persembahan kepada Allah. Ada begitu banyak orang dengan latar belakang berbeda-beda, datang dan membawa persembahan ke depan. Ada yang mapan secara ekonomi, tetapi adapula yang sederhana karena tidak berduit. Tuhan tahu mana orang yang memberi dari kelebihan mereka. Bukannya Tuhan Yesus mengecilkan arti persembahan mereka ini, namun Ia mau menunjukkan nilai yang lebih luhur di mata Tuhan. Sebab di mata-Nya bukan jumlah persembahan yang terpenting, namun sikap batin yang mendasari dan mengiringi persembahan itu. Ia memberi berdasarkan cinta dan ketulusan hati kepada Tuhan atau tidak?

Yesus melihat alasan terdalam dari masing-masing penderma. Ia lebih menaruh kasih dan hormat kepada mereka yang mau memberi dengan cinta, ketulusan dan keikhlasan hati. Suatu persembahan tidak terletak semata-mata dari besarnya pemberian, tetapi dari kasih kepada Tuhan. Itulah sebabnya Tuhan Yesus memuji persembahan janda miskin, walaupun jumlahnya sangat sedikit, namun itu adalah “semua yang ada padanya, yaitu seluruh nafkahnya” (Mrk. 12:44). Dua peser menunjukkan kasihnya yang total kepada Tuhan dan ia memberikannya kepada Tuhan dengan ketulusan dan keikhlasan hati.

Kita hidup di dalam dunia “yang sementara sakit” akibat Covid-19 yang berkepanjangan. Ada yang sementara sakit entahkah di rumah atau di rumah sakit. Ada yang kelaparan karena tidak mendapat bantuan atau kehilangan pekerjaan. Demikian, ada banyak orang yang membutuhkan uluran tangan, bantuan kasih dari kita. Kisah janda miskin boleh menjadi insipirasi bagi kita untuk tidak pernah berhenti memberikan sesuatu kepada mereka yang membutuhkan. Cinta kepada Tuhan dengan tulus dan ikhlas, sambil memberikan bantuan/derma kepada mereka yang membutuhkan akan mendapat pujian dan apresiasi dari Tuhan.

(P. Melky Malingkas, Pr)

“Sebab mereka semua memberi dari kelimpahannya, tetapi janda ini memberi dari kekurangannya, semua yang ada padanya, yaitu seluruh nafkahnya” (Mrk. 12:44).

Marilah berdoa:

Bapa di Surga, bukalah mata dan hati kami agar kami selalu tergerak untuk membantu sesama kami. Amin.

 

 

 

 

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini