“Sikap Kerendahan Hati”: Renungan, Sabtu 30 Oktober 2021

0
1791

Hari biasa (H).

Rm. 11:1-2a,11-12,25-29; Mzm. 94:12-13a,14-15; Luk. 14:1.7-11.

Kesombongan merupakan perbuatan dosa yang sering diperbuat manusia. Kesombongan bertentangan dengan martabat pribadi manusia. Karena manusia pada dasarnya hanyalah debu dan memiliki hidup karena diberi nafas oleh Tuhan. Manusia yang baik tidak akan pernah menganggap dirinya melebihi apa pun. Karena sikap kesombongan, manusia ingin dirinya dihormati, ingin didahulukan dan ingin disanjung.

Di Roma, Paulus melihat bahwa ketegaran dan kesombongan bangsa Israel, sebagai umat pilihan Allah, telah membuat rahmat Allah lebih banyak dialami dan dirasakan oleh bangsa-bangsa lain. Walaupun Allah tidak menolak umat-Nya, namun kesombongan dan keangkuhan telah membuat bangsa Israel melakukan banyak pelanggaran di mata Allah. Paulus menunjukkan bagaimana hidup yang penuh dengan sukacita. Orang yang hidup dengan penuh suka cita adalah hidup yang berubah. Buah perubahan yang dimaksudkan adalah belas kasih dan pelayanan kepada sesama. Orang seperti ini tidak akan pernah mengalami kegelisahan karena kesombongan melainkan merasa nyaman dalam melayani sesamanya.

Yesus dalam bacaan Injil menanggapi orang-orang yang mencari kehormatan diri dengan memberikan sebuah perumpamaan tentang menghadiri undangan pesta perkawinan. Ketika diundang ke pesta, duduklah di tempat yang rendah. Duduk di tempat yang rendah artinya menempatkan diri tidak lebih penting dari pada yang lain. Di tempat yang rendah itulah orang justru memiliki kesempatan untuk menghargai dan mengutamakan orang lain. Yesus mengajarkan kepada para murid-Nya supaya bersikap rendah hati. Karena mereka yang meninggikan diri akan direndahkan dan sebaliknya, mereka yang merendahkan diri akan ditinggikan. Secara langsung Yesus mengingatkan kita akan status kita sebagai anak-anak Allah yang mestinya membuat kita sadar untuk senantiasa bersikap rendah hati. Karena tanpa Allah, kita sebagai anak-anak-Nya tak memiliki apa-apa untuk bermegah diri dan menyombongkan diri.

Menjadi orang yang rendah hati memang sulit. Namun kita diminta untuk memohon kekuatan dari Roh Kudus untuk menuntun kita agar menjadi orang yang mampu bersikap rendah hati dalam kehidupan setiap hari. Karena tanpa karya Roh Kudus kita tidak mungkin memiliki sikap kerendahan hati. Roh Kudus membantu kita untuk mengosongkan diri kita dengan daya ilahi-Nya. Oleh karena itu, hendaknya kita membiarkan diri kita dituntun oleh karya Roh Kudus agar mengosongkan diri kita dari segala sikap kesombongan dan keegoisan kita.

(Fr. Natalio Kawarnidi)

Sikap Kerendahan Hati“Barangsiapa meninggikan diri, ia akan direndahkan dan barangsiapa merendahkan diri, ia akan ditinggikan” (Luk. 14:11).

Marilah berdoa:

Ya Tuhan, berilah aku Roh kerendahan hati dalam seluruh aktivitas hidup, agar aku mampu menghadirkan kasih-Mu bagi sesama. Amin.

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini