“Roh-Mu, kekuatanku”: Renungan, Senin 25 Oktober 2021

0
1975

Hari Biasa (H)

Rm. 8:12-17; Mzm. 68:2.4,6-7ab,20-21; Luk. 13:10-17

Dalam hidup ini, seringkali kita masih terbelenggu dalam sikap egois terhadap Tuhan dan sesama. Egois yang dimaksud adalah lebih mementingkan kebahagiaan diri sendiri, dan lebih mengandalkan kekuatan diri sendiri. Tindakan dari sikap ini tentunya akan membawa dampak yang buruk bagi relasi kita dengan Tuhan dan sesama. Sehingga, kita semakin jauh dari kebahagiaan sejati yaitu keselamatan surgawi. Hal tersebut dilukiskan lewat bacaan-bacaan hari ini.

Umat Allah yang terkasih, bacaan-bacaan hari ini menggambarkan tentang betapa pentingnya karya Allah dalam kehidupan manusia. Karena dengan karya Allah, maka segala yang dilakukan dan terjadi tidak dapat binasa, melainkan membawa sukacita berlimpah. Karya Allah itulah yang disebut dengan Roh Allah, sehingga pada dasarnya karya tersebut bernilai baik. Dalam surat Rasul Paulus kepada jemaat di Roma, diceritakan bahwa segala sesuatu yang dikerjakan atas Roh Allah disebut anak Allah. Untuk itu hal tersebut adalah baik. Hal yang serupa pun diceritakan dalam bacaan injil, di mana Tuhan Yesus oleh belas kasihan-Nya menyembuhkan seorang perempuan yang sakit akibat roh jahat pada hari Sabat, yang diimani masyarakat zaman itu adalah hari istirahat (hari ke-7). Pekerjaan tersebut di mata masyarakat adalah sesuatu yang salah, karena telah melanggar hukum. Namun, bagi Tuhan tidak ada yang lebih penting dari kebahagiaan dan keselamatan bagi setiap orang. Untuk itu, dapat terlihat bahwa sebagai anak Allah, pekerjaan yang dilakukan-Nya digerakkan oleh roh Allah sendiri.

Umat Allah yang terkasih, karya Allah yang ditampilkan lewat kisah penyembuhan ini pun tidak hanya memberikan keselamatan bagi perempuan tersebut, melainkan juga bagi lawan-Nya (orang banyak). Keselamatan itu datang karena lewat tindakan Yesus, mereka mendapat sebuah pembaharuan, di mana mereka mengikuti ajaran Yesus, dengan membantu sesama dalam keadaan apa pun. Namun, salah satu yang juga menarik adalah ketika Yesus mengatakan bahwa orang banyak itu munafik. Kemunafikan itu timbul karena ingin menang sendiri (egois). Ini adalah sesuatu yang luar biasa karena lewat Roh Allah, hukum yang berlaku pada saat itu dapat dipatahkan dan orang-orang yang melawan Yesus dikalahkan-Nya. Oleh karena itu, dari kedua bacaan ini Tuhan Yesus mengajarkan kepada kita untuk tidak bersikap egois, melainkan peduli terhadap sesama yang berkesusahan serta selalu mengandalkan Tuhan dalam hidup ini.

(Fr. Ambrosius Andy Rahawarin)

“Ketika Yesus melihat perempuan itu, Ia memanggil dia dan berkata kepadanya: hai ibu, penyakitmu telah sembuh” (Luk. 13:12).

Marilah Berdoa:

Tuhan, penuhi dan tuntunlah hidup kami oleh kuasa roh-Mu. Amin.

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini