“Manusia Selalu Membutuhkan Sesama”: Renungan, Minggu 3 Oktober 2021

0
2628

Hari Minggu Biasa XXVII (H)

Kej. 2:18-24; Mzm. 128:1-2,3,4-5,6; Ibr. 2:9-11; Mrk. 10:2-16 (atau lebih singkat: Mrk. 10:2-12).

Saudara-saudari yang terkasih, kalau kita merenungkan hidup manusia, baik hidup kita sendiri maupun hidup orang lain, mungkin kita bisa bertanya di dalam hati: manusia itu pada dasarnya egois atau sosial? Kalau kita perhatikan bahwa setiap orang selalu memikirkan kepentingan diri sendiri dan keluarganya terlebih dahulu, maka kita akan menyimpulkan bahwa manusia itu egois. Apalagi kalau kita melihat perbuatan orang tertentu yang memperkaya diri dengan korupsi, bahkan pun di tengah bencana alam dan pandemi, orang masih tega melakukan korupsi, maka kita tergoda untuk menyimpulkan bahwa manusia pada dasarnya adalah egois. Dari lain pihak, kita juga melihat bahwa manusia itu pada dasarnya cepat tergerak untuk menolong sesama. Dalam peristiwa duka, tanpa diminta para tetangga dan sanak – saudara langsung bergotong royong mendirikan tenda, memasak, menyiapkan pemakaman dll. Dalam kehidupan sehari-hari peristiwa tolong menolong di antara sesama selalu terjadi dan tidak terhitung banyaknya. Dan kita bisa menyimpulkan bahwa manusia itu tidak egois, melainkan berjiwa sosial.

Hari ini kita diingatkan bahwa Tuhan menciptakan manusia pria dan wanita untuk saling menolong. Pria tidak bisa hidup sendirian, demikian pula wanita. Apalagi kalau menyangkut tugas untuk melahirkan keturunan, maka pria dan wanita harus bekerja sama dan menjadi perpanjangan tangan Tuhan dalam menciptakan seorang makhluk kecil, bayi yang mungil. Hidup berkeluarga adalah pengalaman sosialitas manusia yang pertama. Setiap manusia belajar dari rumahnya bagaimana hidup bersama dengan orang lain. Dan ketika anak-anak itu sudah tumbuh dewasa dan saatnya untuk menikah, maka laki-laki akan meninggalkan ayah dan ibunya, dan bersatu dengan isterinya. Mereka bukan lagi dua melainkan satu daging. Artinya mereka menjadi sehati dan sejiwa, senasib dan sepenanggungan. Mereka selalu bersama dalam suka dan duka, dalam untung dan malang, di waktu sehat dan sakit, dalam seluruh hidup mereka.

Sabda Yesus tentang perkawinan pada hari ini adalah sangat indah: “Demikianlah mereka bukan lagi  dua, melainkan satu. Karena itu, apa yang telah dipersatukan oleh Allah, tidak boleh diceraikan oleh manusia.” Dan untuk menunjukkan kesatuan itu, maka Kitab Kejadian menjelaskan asal-usul diciptakannya wanita yang diambil dari tulang rusuk laki-laki. Seorang wanita diambil dari bagian tubuh laki-laki dan Tuhan menciptakannya sebagai seorang penolong yang sepadan dengan dia. Ketika Adam melihat Hawa untuk pertama kalinya, ia juga begitu girang, sehingga ia berseru,” Inilah dia, tulang dari tulangku dan daging dari dagingku.” Adam langsung menyatakan bahwa Hawa adalah bagian dari tubuhnya dan bagian dari hidupnya serta menjadi belahan jiwanya.

Hendaknya para suami-isteri semakin menyadari keluhuran panggilan hidup mereka sebagai pasangan seumur hidup dan sebagai orang tua bagi anak-anak. Dan hendaknya pula, setiap orang semakin menyadari bahwa kita semua dipanggil oleh Tuhan untuk saling membantu dan menolong satu sama lain. Kebijaksanaan itu sudah ada juga di dalam leluhur orang Minahasa yang dirumuskan oleh Dr. Sam Ratulangi: “Si tou timou tumou tou” yang artinya: manusia hidup untuk memanusiakan manusia lain. Manusia hidup untuk saling menolong, saling membantu dan saling mengasihi. Dalam bahasa dialek manusia sering dikatakan: Torang hidup supaya “baku beking pande dan baku beking bae.” Selamat hari Minggu, Tuhan memberkati kita semua. Amin.

(Romo Albertus Sujoko MSC)

“Demikianlah mereka bukan lagi  dua, melainkan satu. Karena itu, apa yang telah dipersatukan oleh Allah, tidak boleh diceraikan oleh manusia” (Mrk. 10 :8-9).

Marilah berdoa:

Ya Tuhan, semoga Engkau memberkati setiap keluarga dan setiap pasangan suami-istri supaya mereka selalu hidup rukun dan bahagia, saling mengasihi dan saling menolong di dalam mengarungi bahtera rumah tangga mereka serta mampu mendidik anak-anak mereka dengan baik. Demi Kristus Tuhan kami. Amin.

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini