“Deposito Dosa Ialah Maut”: Renungan, Sabtu 23 Oktober 2021

0
1754

Hari Biasa (H).

Rm. 8:1-11; Mzm. 24:1-2,3-4ab,5-6; Luk. 13:1-9.

Dewasa ini, kata dosa merupakan hal yang lumrah dalam kehidupan kita. Dosa senantiasa ada dan tinggal dalam kehidupan kita. Ketika kita melakukan suatu tindakan pernahkah terlintas di benak kita bahwa apa yang kita perbuat mendatangkan dosa atau tidak? Apakah memang kita memikirkannya, atau cenderung untuk mengabaikannya? Ataukah mungkin kita tidak memikirkannya sama sekali.

Bacaan pertama dengan mantap melukiskan bagaimana Roh dari Allah sendiri berperan penting ketika seseorang menentukan sebuah perbuatan. Roh Allah inilah yang dimaksudkan Rasul Paulus bekerja dalam kehidupan para pengikut Yesus untuk menguatkan dan membebaskan mereka dari kuasa dosa. Rasul Paulus membedakan  tindakan manusia yaitu tindakan yang menuruti keinginan daging dan tindakan yang menuruti Roh. Keinginan daging mendatangkan maut sedangkan keinginan roh membuat orang yang berpikir dan melaksanakan hal-hal yang berbau rohani.

Lalu, bagaimana seseorang dapat lepas dari perbuatan yang menuruti keinginan daging? Sebenarnya penginjil Lukas mau menguak tentang cinta kasih Allah yang tak putus-putusnya bagi kita yang terlanjur jatuh dalam pelukan dosa. Satu-satunya cara yang dapat mendamaikan hubungan kita dengan Allah ialah dengan bertobat. Allah menghendaki agar kita bertobat dan kembali ke pangkuan-Nya. Hal ini dapat menyiratkan kepada kita sekalian bagaimana Allah sangat mengasihi dan mencintai kita umat-Nya. Tokoh-tokoh yang ada dalam perumpamaan Yesus mengenai pohon ara yang tidak berbuah ialah pemilik pohon ara yang merupakan ekspektasi dari Allah, pengurus kebun anggur tidak lain dari Yesus sendiri sedangkan pohon ara yang tidak berbuah itu adalah pribadi kita yang tidak bertobat.

Penginjil Lukas melukiskan bahwa Allah sangat peduli dengan kita umat manusia di saat kita jatuh dalam dosa. Allah menghendaki agar kita mau bertobat dan berubah serta kembali kepada-Nya. Allah menghendaki agar kita berbuah namun kita sendiri sering kali lebih menuruti keinginan daging kita. Bahkan Allah memberikan banyak kesempatan untuk menyadarkan kita agar kita kembali ke jalan yang benar, tapi yang terjadi adalah kita kembali dalam dosa yang sama dan tidak menghasilkan apa-apa. Sosok pengurus kebun anggur ialah sosok Yesus yang meminta kepada pemilik kebun anggur yang tidak lain ialah Bapa-Nya. Di sini kita melihat bahwa Yesus peduli dengan kita. Kehadiran Yesus di tengah kita melalui pengajaran, mujizat, dan pewartaan-Nya menghendaki kita agar dapat bertobat dan menghasilkan buah yang berlimpah.

Berlandaskan bacaan-bacaan Kitab Suci hari ini, sudahkah kita semua mau bertobat atau sekurang-kurangnya meminimalisir perbuatan yang menjerumuskan kita dalam  lembayan dosa? Jika sudah kembangkanlah, jika belum mulailah dari sekarang, sebab tidak ada kata terlambat bagi mereka yang mau bertobat.

(Fr. Yosep Marjo Setitit)

“Siapa menyebunyikan pelanggarannya tidak akan beruntung, tetapi siapa yang mengakuinya dan meninggalkannya akan disayangi” (Ams. 28:13).

Marilah Berdoa:

Syukur kepada-Mu Bapa atas segala pemberian yang kuterima dari kemurahan-Mu yang besar itu. Kami mohon agar kami senantiasa hidup menurut roh bukan menurut kehendak daging semata. Demi Kristus Tuhan dan Pengantara kami Amin. 

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini