Pesta S. Lukas, Penulis Injil (M).
2tim. 4: 10-17b; Mzm. 145:10-11,12-13ab,17-18; Luk. 10:1-9.
Pergilah sesungguhnya aku mengutus kamu seperti anak domba ke tengah-tengah serigala. Satu kalimat perutusan yang mungkin jika dicerna tanpa menggunakan iman yang baik, maka kita semua pasti akan berpikir bahwa Yesus ingin membawa kita ke dalam kebinasaan. Akan tetapi, jika kita menerima perintah Yesus dengan penuh iman maka kita akan mengerti bahwa Allah sungguh mengasihi kita semua. Ia tidak hanya sekedar mengutus kita begitu saja tetapi Ia menjaga kita tanpa pernah meninggalkan kita berjalan sendirian.
Saudara-saudara yang terkasih, bacaan-bacaan Kitab Suci hari ini mengisahkan dengan jelas kepada kita semua tentang perlindungan Allah yang tak terbatas. Dalam bacaan pertama dikisahkan perjuangan Rasul Paulus yang tidak pernah menyerah untuk mewartakan kerajaan Allah, walaupun sering ditekan, ditindas bahkan dipenjara. Paulus yakin dan percaya bahwa jika ia melakukan perintah Allah dengan penuh iman dan kasih maka kemuliaan Allah akan terbuka baginya. Jika dilihat lebih dalam maka kita dapat menemukan bahwa kemuliaan Allah juga hadir kepada kita semua yang menjadi pengikut-Nya. Hal ini bisa dilihat dengan jelas di dalam bacaan Injil dimana Yesus yang mengutus murid-murid-Nya untuk mewartakan Injil, tidak membiarkan mereka pergi begitu saja. Akan tetapi sebelum mengutus mereka, Yesus memberi nasihat dan kuasa kepada mereka untuk mengatasi segala kemungkinan terburuk yang akan terjadi dalam karya pewartaan mereka.
Hari ini Gereja Katolik merayakan pesta Santo Lukas seorang murid Kristus yang dengan gigih berjuang untuk mewartakan kerajaan Allah. Jika kita melihat Santo Lukas sebagai seorang pejuang kerajaan Allah, maka perjuangan itulah yang harus kita hidupi dalam diri kita. Terkadang dalam hidup, kita sering mengeluh tentang beratnya penderitaan yang kita alami. Bahkan tidak sedikit dari kita yang mempertanyakan kemahakuasaan dari Allah. Kita tidak pernah menyadari bahwa sesungguhnya Allah selalu ada bersama kita dan menuntun kita ke jalan yang benar. Namun karena hati dan budi terlalu gelap untuk bisa merasakan kebaikan Allah, maka kita semua semakin jauh dari damai sejahtera-Nya. Hari ini Santo Lukas hadir untuk mengingatkan kita bahwa jangan pernah mengeluh, datanglah dan bersandar kepada Allah maka kita akan mengalami damai sejahtera yang Allah tawarkan karena Allah selalu menerima kita apa adanya tanpa memandang latar belakang hidup yang kita miliki.
(Fr. Adiputro Koraag)
“Damai sejahtera bagi rumah ini” (Luk. 10:5).
Marilah berdoa:
Tuhan, hadirlah selalu bersama kami. Amin.











