“Cinta Mengalahkan Dosa”: Renungan, Selasa 19 Oktober 2021

0
1519

Hari biasa (H).

Rm. 5:12,15b,17-19,20b-21; Mzm. 40:7-8a,8b-9,10,17; Luk. 12:35-38.

Cinta itu buta. Setujukah kamu dengan kalimat itu? Memang ada pro dan kontra mengenai cinta itu buta atau tidak, akan tetapi bagi saya cinta itu tidak buta. Mengapa demikian? Karena cinta itu mampu melihat, memahami dan memilih apa yang sebenarnya menjadi tujuan manusia. Awalnya cinta itu melihat yakni melihat untuk memahami apa yang dilihatnya. Setelah memahami, cinta mampu memilih apa yang terbaik bagi manusia. Dengan demikian dapat dikatakan bahwa cinta itu berasal dari Allah, yaitu sebagai suatu rahmat Allah yang harus dijaga oleh manusia, karena cinta itu suci dan tak bernoda.

Saudara-saudariku yang terkasih dalam Tuhan Yesus Kristus, dalam bacaan pertama ditunjukkan bahwa cinta itu dapat dirusak oleh manusia. Adam sebagai manusia pertama membuat suatu kesalahan besar, yang mana ia menjauh dari cinta Allah yang diberikan kepadanya. Dengan bersekutu dengan dosa, cinta Tuhan dirusak olehnya. Karena kerusakan cinta Allah itu, setiap manusia yang lahir dari Adam akan melekat juga dosa asal itu dan  mendapat hukuman keluar dari taman Eden, yang tak lain adalah surga. Akan tetapi manusia tidak perlu khawatir dengan hal itu, karena cinta Allah selalu ada bagi manusia dan tidak pernah meninggalkannya. Bukti cinta Allah itu adalah merelakan diri-Nya, yaitu dalam diri Yesus Kristus yang mengorbankan diri untuk menebus dosa-dosa manusia. Dari bacaan pertama ini, kesempurnaan cinta Allah sangat jelas terlihat, tergantung dari manusia yang mau menerimanya atau menolaknya. Pertanyaannya adalah bagaimana cara manusia menerima cinta Allah itu?

Saudaraku yang terkasih, Injil hari ini memberikan jawaban mengenai bagaimana cara menerima cinta Allah itu. Menerima cinta Allah sama halnya dengan menjadi hamba yang baik bagi tuannya, yaitu yang menunggu dengan setia kedatangan tuannya. Kesetiaan pada tuan itu akan menjadikan kebahagiaan bagi hamba itu sendiri. Hamba yang setia itu diberikan pelayanan dari tuannya karena ketabahan hatinya  dalam menunggu tuannya. Demikian digambarkan bahwa Allah itu memiliki cinta yang tak terbatas, yang mana Dia sendirilah yang akan melayani hamba-Nya yang tetap setia pada tugas dan tanggung jawabnya. Untuk itulah kita sebagai hamba-hamba yang mau menerima cinta Allah, marilah kita setia dalam tugas dan tanggung jawab kita sebagai hamba-hamba-Nya. Marilah kita melayani cinta Allah yang hadir dalam diri sesama manusia yang membutuhkan pertolongan kita.

(Fr. Prawian Kristianus Bea)

Bersukacitalah dalam pengharapan, sabarlah dalam kesesakan, dan bertekunlah dalam doa!” (Rm. 12:12)

Marilah berdoa:

Ya Tuhan, buatlah kami menerima cinta-Mu. Amin.

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini