“Allah adalah Hakim yang adil”: Renungan, Rabu 13 Oktober 2021

0
3225

Hari Biasa (H).

BcE Rm. 2:1-11; Mzm. 62:2-3.6-7.9; Luk. 11:42-46. BcO Yer. 3:1-5,19-4:4

Hidup manusia tidak pernah luput dari yang namanya menghakimi. Kita bahkan sering menghakimi orang yang menurut kita bersalah sampai ia merasa kapok tanpa memikirkan perasaannya. Kita merasa diri kitalah yang paling benar. Hal itu pasti membuatnya merasa terpuruk, putus asa, dan hilang harapan.

Bacaan-bacaan hari ini menghantar kita untuk ungkan kembali tentang kebiasaan kita yang sering menghakimi orang lain. Dmerenalam bacaan pertama rasul Paulus menyampaikan kepada jemaat di Roma sebuah perintah untuk tidak menghakimi orang lain, sebab kita sendiripun sebagai manusia biasa tidak luput dari yang namanya salah. Ketika kita menghakimi orang lain yang bersalah sesungguhnya kita pun menghakimi diri kita sendiri, karena mungkin kita juga pernah melakukan kesalahan yang sama. Keangkuhaan manusia dalam menghakimi orang lain bertolak jauh dari sifat Allah yang pengasih dan adil. Hal yang sama ditemukan juga dalam bacaan injil dimana Yesus mengecam orang-orang Farisi dan ahli-ahli Taurat yang lebih mementingkan diri sendiri dan mengabaikan keadilan dan kasih Allah. Mereka suka mencari ketenaran dan ingin dihargai banyak orang, tetapi mereka memandang rendah orang lain. Yesus mengatakan bahwa orang-orang seperti demikian sesungguhnya sama seperti kubur yang tidak memakai tanda, sehingga orang berjalan di atasnya dan tidak mengetahui.

Saudara-saudari yang terkasih dalam Tuhan kita Yesus Kristus, melalui bacaan-bacaan hari ini kita diajarkan untuk rendah hati. Manusia memang cenderung merasa diri yang paling benar sehingga ia mudah menjatuhkan dan menghakimi orang lain. Hal ini tentunya salah di mata Allah. Allah tetaplah Allah yang adil kepada semua ciptaan-Nya dan Ia mengasihi semua ciptaan-Nya terlebih khusus manusia. Allah menciptakan manusia dengan kemampuan yang luar biasa sehingga manusia mempunyai akal budi dan hati nurani. Dengan kemampuan yang luar biasa tersebut, maka manusia bisa mengarahkan dirinya pada jalan keselamatan sesuai yang dikehendaki Allah. Allah adalah adil. Ialah yang dapat menghakimi semua orang dengan adil tanpa pandang bulu. Oleh sebab itu hendaklah kita rendah hati. Dengan menjadi orang yang rendah hati kita tidak mudah menghakimi orang lain, kita menjadi manusia yang adil, kita dapat saling mengasihi sesama manusia, dan lebih dari itu kita menjadi putra-putri Allah.

(Fr. Juliano Demastu Rifaldy Watu)

Tetapi kita tahu, bahwa hukuman Allah berlangsung secara jujur atas mereka yang berbuat demikian!” (Rm. 2:2).

Marialh berdoa:

 Ya Bapa, jadikanlah hati kami seperti hati-Mu. Amin.

 

 

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini