“Pililihanmu adalah Tindakan Pewartaan”: Renungan, Selasa 7 September 2021

0
1774

Hari Biasa (H)

BcE Kol. 2:6-15; Mzr. 154:1-2;8-9,10-11; Luk. 6:12-19

Dalam sebuah perkuliahan seorang dosen menegaskan bahwa setiap orang mempunyai kehidupan masing-masing. Jangan merusak hidup orang lain hanya karena tidak mampu memilih. Sepintas perkataan ini terlihat sederhana namun jika ditelusuri lebih dalam, kalimat tersebut memiliki makna yang sangat mendalam karena menyentuh persoalan kehidupan. Kita semua mungkin sudah sering mendengar kata-kata “hidup adalah pilihan.” Kata-kata ini hendak menegaskan bahwa hidup terdiri atas pilihan-pilihan. Setiap hari kita dihadapkan dengan berbagai pilihan. Mulai dari persoalan yang sederhana hingga persoalan yang besar. Keputusan atas pilihan yang kita ambil tentu akan mempengaruhi kehidupan kita dan pada akhirnya kualitas hidup kita akan dibentuk oleh kualitas pilihan yang diambil. Misalnya saya memilih untuk bangun lebih awal. Pengaruh yang kita dapat alami atas pilihan tersebut yaitu saya bisa mandi, makan, pergi bekerja, belajar dengan tepat waktu dan ini kemudian membentuk kehidupan kita. Kita menjadi orang yang disiplin waktu.

Pada hari ini, dari pribadi Yesus kita belajar bahwa memilih sesuatu pertu dipertimbangkan secara baik. Hal ini mengandaikan adanya kerja akal budi dalam arti menggunakan akal budi untuk mempertimbangkan segala konsekuensi atas pillihan yang ditetapkan dan sikap atau tindakan yang akan kita ambil. Sebagai orang beriman yang telah dibabtis, hidup kita tidak lain merupakan tindakan pewartaan dan oleh karena itu setiap keputusan yang kita ambil harus terarah pada karya pewartaan. Dan tindakan pewartaan mengandaikan adanya kerja sama dengan Tuhan. Karena itu keterlibatan Tuhan menjadi penting sebab keputusan yang baik adalah keputusan yang seturut dengan kehendak Tuhan.

Pengambilan keputusan yang baik dimulai dengan pencarian kehendak Tuhan. mencari tahu apa yang Tuhan mau dengan hidup kita. Pertanyaannya bagaimana kita dapat sekehendak dengan Allah? Surat Rasul Paulus kepada Jemaat di Kolose memberi jawaban yakni hidup bersatu dengan Allah, berakar di dalam Allah dan dibangun atas Allah sendiri. Secara singkat hal ini dapat dimengerti dengan penyerahan diri secara total kepada Allah dan menjadikan Allah sebagai sumber dan puncak hidup kita sehingga kehidupan kita selalu terarah pada kehendak-Nya.

Keterlibatan Allah dalam pengambilan keputusan membuat kita tidak jatuh dalam kesesatan dan kekeliruan sebagaimana yang disebut oleh rasul Paulus sebagai filsafat kosong dan palsu. keterlibatan Allah membuat kita sadar bahwa kita telah dipilih dari dunia dan ditetapkan agar pergi dan berbuah. Dan kita menyadari bahwa seluruh hidup kita adalah tindakan perwartaan. Karena itu pengambilan keputusan juga harus terarah pada tindakan pewartaan. Dan keputusan yang baik adalah keputusan yang selaras dengan kehendak Allah.

(Fr. Alosius Gonsaga No)

“Ketika hari siang, Ia memanggil murid-murid-Nya kepada-Nya, lalu memilih dari antara mereka dua belas orang, yang disebut-Nya rasul” (Luk. 6 :13).

Marilah berdoa:

Ya Allah, tuntunlah aku agar keputusan atas pilihan yang aku ambil bukan atas dasar kehendakku melainkan kehendak-Mu. Amin.

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini