Hari Biasa (H).
BcE. Kol. 1:9-14; Mzm. 98:2-3ab,3cd-4,5-6; Luk. 5:1-11. BcO Am. 4:1-13.
Ketika Yesus berada di dunia, Ia memilih orang-orang yang dipercayakan-Nya untuk menjadi ‘penjala manusia’. Mereka inilah yang kelak akan meneruskan misi Yesus. Inilah murid-murid Yesus. Dapat dimengerti kata penjala dipergunakan karena pekerjaan para murid yang dipanggil-Nya ini ialah nelayan. Akan tetapi, sesungguhnya kata ini dimaksudkan bahwa Yesus menghendaki para murid-Nya untuk membawa keselamatan bagi setiap orang.
Lewat bacaan Injil, kita disuguhkan sebuah kisah hidup panggilan dari para murid. Menarik dalam kisah ini bahwa para murid terlihat memercayakan diri seutuhnya kepada Yesus. Para murid adalah nelayan yang handal, namun semalaman mereka tak mendapat satu ikanpun. Tentu hal ini menimbulkan kekecawaan yang amat besar. Kendatipun demikian ketika Yesus meminta Simon (Petrus) bertolak kembali, ia langsung mengiyakan perintah Yesus tanpa basa basi.
Sikap Petrus ini sungguh menandakan kesiapsediaan dirinya. Petrus menunjukkan sikap mengikuti Yesus dengan seluruh jiwa dan raga. Para murid sadar bahwa kehendak Allah bekerja dalam diri Yesus. Sehingga dalam diri-Nya mereka melihat adanya keselamatan. Untuk itulah mereka mau mengikuti panggilan dari Yesus, Panggilan kepada keselamatan. Alhasil, mereka pun mendapat gelar ‘penjala manusia’.
Dalam menjalankan tugas perutusan Yesus, para murid tidak serta merta merasa sombong. Malahan, dengan sikap rendah hati, Petrus merasa bahwa dirinya berdosa. Sikap inilah yang menjadikan para murid sebagai agen-agen keselamatan yang berkualitas. Mereka mampu menyerahkan diri seutuhnya kepada Tuhan. Dengan demikian keselamatan yang dibawa oleh Kristus kemudian diwartakan oleh para murid sebagai ‘penjala manusia’
Dengan mengikuti-Nya para murid telah melaksanakan kehendak Tuhan sendiri. Dalam hidup, kita pun senantiasa dipanggil oleh Tuhan. Dipanggil untuk menjadi kepala keluarga, ibu rumah tangga, guru, dokter, kakak, adik, dsb. Namun apakah dalam panggilan tersebut, kita senantiasa melihat karya dan rencana Tuhan di dalamnya? Mampukah kita melaksanakan panggilan hidup masing-masing demi karya keselamatan Allah di dunia?
Kadang kita berdalih dalam melaksanakan tugas perutusan kita. Tugas sering dilalaikan dan tidak dilaksanakan dengan sepenuh hati. Misal, jika diminta memimpin ibadat/doa kadang kita mengelak. Hari ini kita diingatkan supaya senantiasa siap sedia dalam menanggapi panggilan Kristus, panggilan yang tertuju pada keselamatan. Dengan demikian kita mampu menikmati rahmat keselamatan yang dapat diperoleh melaluinya.
(Fr. Wilio Kalesaran)
“Guru, telah sepanjang malam kami bekerja keras dan kami tidak menangkap apa-apa. Tetapi atas perintah-Mu aku akan menebarkan jala juga” (Luk. 5:5).
Doa:
Ya Yesus, ajarilah kami untuk menanggapi panggilan-Mu dalam hidup kami masing-masing. Amin.











