“Menjadi Seperti Anak Kecil”: Renungan, Jumat 1 Oktober 2021

0
1820

Pesta St. Teresia dr Kanak-kanak Yesus (P)

Yes. 66:10-14c; Mzm. 131:1,2,3; Mat. 18:1-5.

Teresia dari Kanak-Kanak Yesus merupakan Putri Bungsu dari keluarga yang saleh. Ia tinggal bersama ayahnya Louis Martin dan ibunya Azelia Guerin di kota Lisieux, Prancis. Dalam kehidupannya ia merasakan kasih karunia Allah dalam dirinya. Sejak sembuh dari penyakitnya secara ajaib ia mempersembahkan secara khusus dirinya kepada Yesus. Jalan yang dipilih oleh Sta. Theresia menunjukkan suatu jalan cinta kasih yang menghubungkan manusia dengan Allah menjadi anak-anak-Nya. Artinya dengan menyerahkan hidup sepenuhnya kepada Allah sama seperti seorang anak kecil yang mengharapkan segalanya dari orang tuanya sendiri.

Dalam bacaan pertama dilukiskan bahwa ketika seseorang melihat Tuhan, hatinya akan merasakan kegirangan dan akan menjadi seperti rumput muda yang tumbuh dengan lebat. Artinya bahwa manusia perlu untuk mencari, menemukan, melihat Tuhan secara langsung dalam kehidupannya. Bahwa Tuhan akan selalu menjadi Bapa yang selalu bersama dengan anak-anak-Nya, asalkan anak-anak-Nya percaya dan menyerahkan dirinya kepada-Nya. Hal demikian telah ditunjukkan oleh Sta. Theresia, bahwa ia telah melihat Tuhan dalam kehidupannya sehingga ia boleh sembuh dari penyakitnya.

Saudara-saudari terkasih, Injil hari ini menunjukkan dialog antara Yesus dengan murid-murid-Nya. Ada pertanyaan dari murid-murid-Nya tentang siapa yang terbesar dalam Kerajaan Surga. Jawaban yang diberikan oleh Yesus kepada para murid-Nya membingungkan mereka tetapi sekaligus mengagumkan. Yesus menunjukkan sosok anak kecil guna melukiskan keberadaan diri manusia. Bahwa syarat untuk layak masuk ke dalam Kerajaan Surga seperti keberadaan diri anak kecil. Yesus menunjukkan sikap anak kecil yang polos, jujur, penuh keceriaan dan penuh kepercayaan kepada orang tuanya menjadi sikap dasar bagi manusia untuk berkenan di hadapan Allah.

Hal ini menunjukkan bahwa untuk berada dalam Kerajaan Surga manusia perlu menyerahkan dirinya sepenuhnya kepada Allah, sama seperti seorang anak yang menyerahkan dirinya kepada orang tuanya. Yesus mengingatkan kepada kita agar senantiasa hidup kita dipenuhi dengan kebaikan dan itulah yang perlu kita sadari sebagai bentuk pengharapan dan kerinduan sebagai anak-anak Allah. Sehingga menjadi manusia yang jujur dan polos seperti anak kecil di zaman ini membutuhkan iman yang teguh disertai usaha yang kuat. Sebab jika tidak, kita akan terjerumus dalam arus zaman dan masuk ke dalam jurang keberdosaan. Semoga kita mampu menjadi seperti anak kecil yang mencari Allah dan mempercayakan kehidupan kepada kehendak-Nya.

(Fr. Adri Montolalu)

“Lihatlah, betapa besar kasih-Nya yang dikaruniakan Bapa kepada kita, sehingga kita disebut anak-anak Allah” (1 Yoh. 3:1).

Marilah Berdoa:

Ya Tuhan, semoga aku selalu menjadi anak yang percaya kepada-Mu. Amin.

 

 

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini