“Mengasihi dalam Penolakan”: Renungan, Selasa 28 September 2021

0
1454

Hari biasa (H)

Za. 8:20-23; Mzm. 87:1-3,4-5,6-7; Luk. 9:51-56.

Secara manusiawi, setiap orang ingin diterima oleh orang lain. Akan tetapi pada kenyataannya tidaklah demikian dalam kehidupan. Dalam kehidupan tetap ada penolakan yang akan dialami oleh setiap orang. Misalnya, surat lamaran untuk bekerja tidak diterima; atau kita dikucilkan oleh teman-taman; atau bahkan penolakan terjadi dalam kisah percintaan kita. Penolakan tentu rasanya tidak enak. Seringkali membuat mental kita down, yang mengakibatkan muncul rasa kecewa, sakit, tersinggung dan marah.

Injil hari ini mengisahkan Yesus yang mendapat penolakan dari orang Samaria. Penolakan ini dialami Yesus pada saat Ia mengirim beberapa utusan ke suatu desa orang Samaria untuk mempersiapkan kedatangan-Nya. Orang Samaria menolak Yesus karena mereka tahu bahwa tujuan-Nya sebenarnya ialah Yerusalem. Melihat penolakan yang dialami oleh Yesus membuat Yakobus dan Yohanes murka sampai mereka berkata: “Tuhan, apakah Engkau mau supaya kami menyuruh api dari langit untuk membinasakan mereka?” Namun dengan sikap-Nya yang penuh kasih Yesus menegur mereka lalu meninggalkan desa tersebut dan pergi ke desa yang lain.

Dengan tindakan-Nya yang menegur Yakobus dan Yohanes, Yesus jelas menunjukkan bahwa Dia tidak menginginkan terjadinya kehancuran dan kebinasaan. Yesus tidak ingin membalas kejahatan dengan hukuman, melainkan Yesus ingin ada kasih yang menyelamatkan bagi mereka yang menolak kehadiran-Nya.

Lalu bagaimana dengan kita yang mendapat penolakan? Kita seringkali memandang penolakan sebagai masalah harga diri, dimana kita merasa disepelekan dan dihina. Karena perasaan tersebut membuat kita terus larut dalam rasa kecewa atau kemarahan yang membuat kita ingin membalas penolakan orang lain tersebut. Jika demikian berarti kita belum mengamalkan kasih Yesus dalam kehidupan kita sebagai pengikut-Nya. Sebab sebagai seorang pengikut Yesus, kita haruslah memiliki kasih dalam diri kita. Kita harus mengasihi dan mengampuni orang-orang yang menolak kita, apapun bentuk penolakan itu.

Memang sulit untuk mengasihi dan mengampuni, namun sebagai pengikut-Nya kita harus mengamalkan kasih dan pengampunan itu dalam setiap kehidupan kita. Jika dalam kehidupan kita dapat mengamalkan kasih dan pengampunan, maka niscaya penolakan yang kita terima di dunia ini akan menjadi sukacita dan kegembiraan di surga nanti.

(Fr. Marco Yohanis Mamarodia)

“Tuhan, apakah Engkau mau supaya kami menyuruh api dari langit untuk membinasakan mereka?” (Luk. 9:54).

Marilah berdoa:

Ya Tuhan, walaupun seringkali ada penolakan dari orang lain dalam menjalani kehidupan, semoga saya tetap mengamalkan kasih dan pengampunan seperti yang Engkau ajarkan. Amin.

 

 

 

 

 

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini