“Bertobat dan Percaya Kepada-Nya” Renungan, Sabtu 4 September 2021

0
2275

Hari Biasa (H)

BcE Kol. 1:21-23; Mzm. 54:3-4,6,8; Luk. 6;1-5. BcO Am. 5:18-6:14. O IbdSore I

Dalam hidup, setiap orang tentu merasakan yang namanya persahabatan. Persahabatan adalah hubungan yang sangat dekat antara dua orang atau lebih, yang saling memahami dan mengerti. Bahkan dalam situasi suka maupun duka seorang sahabat itu selalu hadir. Namun, tidak jarang sahabat menjadi orang pertama yang mengkhianati kita ketika berada dalam situasi sulit. Karena itu yang dibutuhkan dalam sebuah persahabatan ialah sikap saling menaruh kepercayaan.

Bacaan-bacaan hari ini menampilkan sosok Kristus sebagai sahabat yang tak pernah menyakiti umat-Nya dan menerima siapapun yang mau menjadi sahabat-Nya. Hal itu tampak dalam bacaan pertama, sebagaimana Paulus mengajak umat Kolose yang telah berdosa dan jauh dari Kristus untuk kembali bersahabat dengan-Nya. Mungkin kita merasakan hal yang sama dengan umat Kolose.

Ketika kita ingin bertobat dan kembali kepada Kristus, kita selalu dirundung oleh pengalaman akan beban dosa yang telah kita buat. Sehingga tidak jarang orang lebih memilih untuk terus hidup dalam dosa dan menolak kehadiran Tuhan dalam hidup-Nya. Konsekuensinya, sebagai orang beriman tentu kehidupan kita akan selalu dihantui oleh perasaan bimbang tanpa arah dan terus bersalah. Pertanyaannya apakah ketika berada difase ini, kita masih mempunyai kesempatan untuk memulihkan hubungan kita dengan Tuhan atau justru sebaliknya?

Justru Tuhan sangat senang bila kita mengakui kesalahan, bertobat dan percaya kepada-Nya. Agar hubungan kita dengan Tuhan selalu terjaga maka sebaiknya kita selalu betekun dalam doa, memohon perlindungan-Nya supaya terhindar dari godaan dosa. Hal ini ditegaskan pemazmur dalam bacaan kedua, yang berdoa memohonkan perlindungan Tuhan dalam menghadapi musuh-musuhnya. Dalam konteks kita sebagai umat beriman, musuh-musuh yang harus diperangi adalah dosa-dosa yang kita perbuat sehari-hari dalam hidup seperti iri hati, dengki, membunuh, menceritakan kebusukan orang lain dan masih banyak lagi contoh dosa yang kita perbuat.

Dengan begitu kita senantiasa dibimbing, dilindungi dalam naungan Kristus, seperti yang dilakukan Kristus sendiri dalam bacaan Injil hari ini. Sebagaimana Kristus tampil sebagai pelindung, yang selalu melindungi murid-murid-Nya ketika memetik gandum pada hari Sabat. Bagi orang Farisi dan Yahudi hal tersebut adalah suatu pelanggaran berat. Yesus menegaskan bahwa Dialah Tuhan atas hari Sabat itu sendiri. Karena itu sudah sepatutnya kita menaruh kepercayaan kepada-Nya, karena Dia tidak penah menyakiti kita sebagai sahabat-Nya.

(Fr. Carlos Tutratan)

“Anak Manusia adalah Tuhan atas hari Sabat” (Luk. 6:5).

 

Marilah berdoa:

Tuhan, tumbuhkanlah semangat tobat sehingga kami makin percaya pada-Mu. Amin.

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini