“Allah yang menghendaki”: Renungan, Minggu 26 September 2021

0
1544

Hari Minggu Biasa ke XXVI (H)

Bil. 11:25-29;

Mzm. 19:8,10, 12-13, 14;

Yak. 5:1-6;

Mrk. 9:38-43,45,47-48.

Sering kali dalam hidup sehari-hari, kita cenderung melihat dunia bertolak dari sudut pandang kita sendiri. Kita menilai dan memperlakukan orang lain sesuai dengan ukuran dan selera kita. Seakan-akan terdapat sebuah kekhususan yang tidak dapat diberikan kepada yang lain. Sabda Tuhan pada hari ini mengajak kita untuk semakin menyadari bahwa sesungguhnya Allah mempunyai kehendak bahwa semua orang mendapatkan keselamatan dari-Nya. Maka pantaslah kita merenungkan hal ini: mengapa Allah mempunyai kehendak yang sedemikian?

Pertama-tama, kehendak yang sedemikian tampak dalam bacaan pertama di mana Allah memberikan roh-Nya kepada tua-tua Israel. Peristiwa ini menimbulkan tanda tanya sehingga ada keinginan untuk mencegahnya. Namun Musa justru berpikiran lain dengan menegaskan : Ah sekiranya seluruh umat Tuhan menjadi nabi, karena Tuhan memberi Roh-Nya kepada mereka. Pernyataan ini sungguh mengungkapkan jalan kehendak Allah bahwa semua orang perlu hidup dalam Roh-Nya, sehingga semua manusia bisa hidup laksana nabi. Musa juga sama sekali tidak menolak para tua-tua Israel yang mendapatkan Roh itu, bahkan Musa mendorong umat-Nya agar terbuka pada karya-karya Allah melalui siapa saja.

Kedua, bertolak dari Injil yang menggambarkan bagaimana Yesus melarang Yohanes untuk mencegah seseorang yang bukan pengikut mereka mengusir setan demi nama Yesus, sebab Roh Tuhan juga ada pada orang itu. Di sini Yesus membandingkan Kerajaan Allah dengan anggota tubuh kita. Ia mengajarkan bahwa Kerajaan Allah sangat berharga, jauh melebihi harta milik dan anggota tubuh. Jadi kita harus pilih kehilangan Kerajaan Allah atau kehilangan anggota badan yang membuat kita berdosa. Tentu lebih baik kehilangan anggota tubuh ketimbang kehilangan Kerajaan Allah.

Pandangan Yesus sedemikian ini menjadi sebuah cara baru dalam melihat siapa yang berkehendak baik. Yesus tidak melarang siapa pun melaksanakan yang baik karena itulah yang menjadi dasar untuk membentuk kehidupan yang menggambarkan kehadiran kerajaan Allah. Maka siapa pun perlu untuk melaksanakan yang baik, terlebih yang sejalan dengan kehendak Allah.

Ketiga, kita dapat melihat bahwa alasan paling mendasar untuk menerima dan mengakui kehadiran mereka yang berkehendak baik adalah membangun hidup yang membawa keselamatan. Sebagaimana tampak dalam kritik rasul Yakobus yang menyoroti sikap mereka yang mengandalkan kekayaan material yang pada akhirnya akan musnah dan tidak memberikan keselamatan. Dan juga kritik kepada mereka yang tidak mau memperhatikan keadilan bagi sesamanya.

Bertolak dari ketiga hal ini, maka kita dapat menyadari bahwa perlu membangun sebuah keterbukaan dan bahkan dukungan kepada siapa saja yang mau membangun kebaikan dan keadilan bagi sesama. Dan sekaligus mengkritik mereka yang hanya memperhatikan kehidupannya sendiri. Dengan demikian maka kita dapat bersama-sama membangun kehidupan yang mengarah kepada keselamatan yang mau dibawa Allah kepada kita.

(P. A. Bayu Nuyartanto. Pr)

Barangsiapa tidak melawan kita, ia ada di pihak kita” (Mrk. 9:40).

Marilah berdoa:

Ya Bapa, semoga kami dapat semakin bekerja sama dengan siapa saja untuk menghadirkan kehidupan bersama yang dilandaskan pada kebaikan dan keadilan. Amin.

 

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini