“Realitas Zaman Sekarang”: Renungan, Rabu 11 Agustus 2021

0
1821

Pw S. Klara, Prw (P)

Ul. 34:1-12; Mzm. 66:1-3a,5,8,16-17; Mat. 18:15-20.

Kebaikan dan kejahatan merupakan dua hal yang tidak dapat dipisahkan dari diri manusia. Di tengah realitas zaman yang ada, orang cenderung untuk melihat kejahatan dalam diri orang lain ketimbang kebaikan yang dimiliki. Dengan kemajuan teknologi yang ada, orang cenderung untuk mengumbar keburukan seseorang daripada  mewartakan kebaikan.

Dalam bacaan Injil yang kita baca pada hari ini, Tuhan Yesus mengajarkan kepada kita tentang tingkatan dalam menegur satu sama lain. Pertama, “Apabila saudaramu berbuat dosa, tegurlah di bawah empat mata. Jika ia mendengarkan nasihatmu engkau telah mendapatkannya”. Kedua, “ Jika ia tidak mendengarkan, bawalah seorang atau dua orang lagi”, Ketiga, « Jika ia tidak mau lagi, sampaikanalah kepada jemaat”. Keempat, « Pandanglah dia sebagai seorang yang tidak mengenal Allah”. Pertanyaan yang harus dilontarkan kepada kita ialah: apakah kita telah berbuat seturut tingkatan tersebut?

Realitas yang ada menunjukkan bahwa kita cenderung  untuk terlebih dahulu  menghakimi seseorang yang berbuat kejahatan. Kita tidak pernah berpikir bahwa orang yang melakukan kejahatan juga dapat kembali menjadi orang baik. Sebaliknya, orang yang dikategorikan sebagai orang yang baik, dapat berbuat kejahatan dalam kehidupan sehari-hari. Mengapa hal ini dapat terjadi? Kita sering terpengaruh dengan sikap egoisme yang cenderung mengakibatkan kita terjebak pada diri sendiri. Kita cenderung menilai diri sebagai pribadi yang terbaik, dan dampaknya kita memberikan penghakiman atas diri orang lain. Hal inilah yang membuat kita terjebak dalam sikap egoisme dan tidak mementingkan hidup sebagai anggota jemaat.

Kehidupan sebagai seorang jemaat telah ditunjukkan dalam Perjanjian Lama. Musa merupakan salah satu tokoh yang telah menunjukkan hal tersebut. Meskipun ia adalah seorang nabi dan hamba Allah, Ia tidak pernah merasa diri sebagai pribadi yang lebih baik daripada sesama orang Israel yang lain. Akan tetapi, ia selalu memberikan nasehat dan selalu menegur orang-orang Israel yang hidupnya jauh dari kehendak Allah. Sikap inilah yang membuat dirinya sangat dicintai oleh orang-orang Israel, sehingga, ketika ia meninggal, bangsa Israel berkabung selama tiga puluh hari lamanya.

Oleh karena itulah, marilah kita hidup sebagai anggota jemaat Kristen yang saling mengingatkan satu dengan yang lain. Dengan begitu, kita secara bersama-sama saling memberi dukungan untuk mendapatkan hidup yang lebih baik, yakni kehidupan bahagia bersama dengan Allah yang Mahakuasa.

(Fr. Fernando Letsoin)

“Sebab dimana dua  atau tiga orang berumpul dalam nama-Ku, di situ Aku ada di tengah-tengah mereka” (Mat. 18:20).

Marilah berdoa:

Ya Allah, jadikanlah ami pribadi yang saling mengasihi sebagai saudara. Amin.

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini