“Percaya dan Mencintai Yesus”: Renungan, Minggu 22 Agustus 2021

0
1626

Hari Minggu Biasa XXI (H).

E KemSyah. BcE Yos. 24:1-2a,15-17,18b; Mzm. 34:2-3,16-17,18-19,20-21,22-23; Ef. 5:21-32; Yoh. 6:60-69. O AllTuh. BcO Ef. 4:17-24.

Banyak orang datang untuk mengikuti Yesus. Mereka tertarik dengan apa yang telah diperbuat oleh Yesus. Mereka terkesima ketika mendengarkan dan menyaksikan  banyak mukjizat yang dibuat oleh Yesus; Ia mengubah air menjadi anggur, memperbanyak roti, menyembuhkan orang sakit, membangkitkan orang mati, meredakan angin sakal ketika berada di danau Genezaret, menyuruh menebarkan jala ke tempat yang lebih dalam dan banyak ikan yang dihasilkan. Banyak orang terpesona dengan hal itu dan ternyata mereka hanya merasa kagum dengan hal-hal yang menyegarkan mata dan hati mereka. Ketika Yesus menghadapkan mereka terhadap sesuatu yang membutuhkan pengorbanan, pemberian diri, dan penderitaan, mereka tidak sanggup dan mulai mengundurkan diri. “Sebab itu telah Kukatakan kepadamu: Tidak ada seorangpun dapat datang kepada-Ku, kalau Bapa tidak mengurniakannya kepadanya. Mulai dari waktu itu, banyak murid-Murid-Nya mengundurkan diri dan tidak lagi mengikut Dia”.

Tetapi ternyata, murid-murid yang dekat dengan Yesus tidak mau meninggalkan-Nya. Petrus mewakili teman-temannya, ketika ia menjawab pertanyaan dari Yesus, “Apakah kamu tidak mau pergi juga?” dan ia menjawab: “Tuhan, kepada siapakah kami akan pergi? Perkataan-Mu adalah perkataan hidup yang kekal”. Yesus tidak membujuk mereka untuk tetap tinggal. Yesus tahu bahwa mereka bisa memutuskan sesuatu. Bahkan, Ia terang-terangan menantang mereka dengan memberi pilihan untuk ikut atau tidak.

Yesus menegaskan bahwa tak ada paksaan apa pun berkaitan dengan diri-Nya. Yesus sepertinya memahami dan memaklumi seandainya para murid itu pergi meninggalkan-Nya. Sudah pasti, ketika Yesus melihat ada begitu banyak orang mulai meninggalkan Dia, hati-Nya kecewa dan sedih. Melalui jawaban Petrus, Ia tentunya merasa terhibur dan dikuatkan karena ternyata murid-murid yang dikasihi-Nya tetap mau menjadi pengikut-Nya. Petrus dalam imannya menjawab hal ini semua. Ia tahu bahwa Yesus adalah Mesias dan Penyelamat. Ia tahu bahwa ajaran Yesus berat dan keras tetapi menyelamatkan.

Murid lainnya dan Petrus tidak mau meninggalkan Yesus karena mereka telah percaya dan mencintai Dia. Bagi mereka Yesus lebih dari segalanya. Oleh karena itu, ketika Yesus menantang mereka untuk meninggalkan Dia, Petrus menjawab: “Tuhan kepada siapa lagi kami akan pergi?” Jawaban Petrus ini mewakili juga jawaban kita, sekiranya Tuhan bertanya kepada kita dengan pertanyaan yang sama, karena kita semua percaya dan mencintai Dia secara total. Kita bersedia untuk berkorban, memberi diri, bahkan menderita karena Yesus.

(RD. Melky Malingkas)

“Tuhan, kepada siapakah kami akan pergi? Perkataan-Mu adalah perkataan hidup yang kekal” (Yoh. 6:68).

Marilah berdoa:

Allah Bapa kami, buatlah kami menjadi orang yang percaya dan mencintai-Mu setiap saat. Amin.

 

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini