“Pengakuan Iman”: Renungan, Kamis 5 Agustus 2021

0
1574

Hari Biasa (H)

Bil. 20:1-13; Mzm. 95:1-2, 6-7, 8-9; Mat. 16:13-23

Dalam kehidupan setiap hari seringkali kita diperhadapkan dengan sikap ketidakpercayaan, baik melalui tindakan, perkataan dan sebagainya. Ketidakpercayaan sebenarnya selalu menjadi penghalang terhadap kita untuk menerima berkat Tuhan. Banyak orang di antara kita, jika ditanya apakah percaya kepada kuasa Tuhan, bisa menjawab percaya. Namun di sisi lain, mereka mengatakan percaya tetapi tetap saja merasa putus asa ketika badai dan persoalan datang menghampiri.

Pengarang Kitab Bilangan melukiskan sikap ketidakpercayaan bangsa Israel kepada Allah. Sikap tidak percaya ini nampak dalam pertengkaran antara Musa, Harun dan bangsa Israel. Mereka tidak percaya akan penyertaan Allah dalam kehidupan mereka. Mereka merasa Allah meninggalkan mereka dengan membuat mereka kehausan. Mereka hanya mengeluh dan meragukan kuasa Allah. Karena ketidakpercayaan itu, maka Tuhan menyatakan bahwa Musa dan Harun tidak akan membawa bangsa Israel masuk ke negeri yang dijanjikan Tuhan.

Penginjil Matius menunjukkan sesuatu yang berbeda dari bacaan yang pertama. Simon Petrus ditampilkan sebagai sosok yang mengenal dan mengakui kuasa dan kemuliaan Yesus sebagai Anak Allah yang Hidup. Pengakuan Simon bertolak dari tanda-tanda keselamatan yang dilaksanakan oleh Yesus. Ketika Simon hadir bersama Yesus dan menyaksikan tanda-tanda serta pengajaran Yesus, Simon tidak hanya berhenti pada rasa terpesona dan kagum. Simon melangkah ke jalan pengenalan yang benar dan utuh akan Yesus. Pengenalan yang utuh melalui tanda dan pengajaran-Nya membawa Simon pada pengakuan iman bahwa Yesus adalah  benar-benar Mesias, Anak Allah yang Hidup.

Pengenalan yang benar dan utuh akan Allah akan membawa kita pada suatu pengakuan iman bahwa Allah itu Maha Kuasa. Ia dapat membuat sesuatu yang tidak mungkin bagi manusia menjadi mungkin. Ia tidak pernah meninggalkan umat yang percaya kepada-Nya. Ia selalu hadir dalam semua pengalaman hidup manusia. Seperti Simon yang tidak hanya terpesona dan kagum dengan tanda-tanda keselamatan Yesus, kita diajak untuk memiliki pengenalan yang utuh dan benar akan Allah. Pengenalan ini akan membuat kita paham cara kerja keselamatan dan kuasa Allah dalam diri kita masing-masing. Pengenalan yang benar dan utuh akan Allah membuat kita mampu mengenal dan mengalami kuasa Allah dalam kehidupan kita.

(Fr.Mario Rumsory)

Engkau adalah Mesias, Anak Allah yang hidup” (Mat. 16:16).

Marilah berdoa:

Ya Tuhan, bantulah kami untuk mengenal-Mu dengan benar. Amin.

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini