“Kecaplah dan Lihatlah”: Renungan, Minggu 8 Agustus 2021

0
1938

Hari Minggu Biasa XIX

E KemShah. BcE 1 Raj. 19:4-3; Mzm. 34:2-3,4-5,6-7,8-9; Ef. 4:30-5:2; Yoh. 6:41-51.

Saudara sekalian, pada hari ini kita semua diberikan peneguhan dari Tuhan Yesus dengan perumpanaan tentang roti hidup. Sekaligus juga Yesus memberikan arahan kepada kita bagaimana kita sungguh-sungguh pantas menyantap roti hidup itu. Kita semua mendengarkan seruan Tuhan Yesus mengenai roti hidup. Roti hidup ini adalah diri-Nya sendiri. Perumpamaan ini sungguh memiliki makna yang sangat luar biasa, karena dengan perumpamaan roti hidup mau mengatakan kepada kita bahwa satu-satunya syarat supaya kita dapat memperoleh hidup adalah dengan mengikuti Tuhan Yesus. Bahkan Yesus pun mengatakan bahwa barang siapa makan roti hidup tersebut, maka ia tidak akan mati. Perumpamaan roti hidup ini secara kristologis menghantar juga kepada perkataan Yesus mengenai terang dunia (Yoh. 8:12). Maka dengan demikian kita pun harus sadar bahwa Yesus yang kita imani, khususnya roti yang kita santap dalam Perayaan Ekaristi membawa kepada pengetahuan bahwa kita semua diselamatkan.

Dalam pengajaran-pengajaran-Nya tentang roti hidup, Yesus menggunakan kata “memakan dan meminum”. Hal ini sebenarnya mau menunjukkan kepada kita bahwa Ia adalah Allah yang memenuhi keinginan semua manusia. Namun tentu bahwa keinginan yang diminta oleh Allah adalah keinginan untuk memperoleh hidup yang kekal, bukanlah keinginan duniawi kita, sebagaimana yang telah dikatakan dalam Efesus 4:30-5:2 (kegeraman, kemarahan, pertikaian dan fitnah) dan juga segala perjudian, kekerasan, perselingkuhan, iri hati dengki dan lainnya, yang semua itu menjauhkan kita dari Yesus. Oleh karena itulah, kita sekarang diminta untuk tidak menjadi seperti orang-orang Yahudi yang tidak percaya. Kita semua diminta untuk tidak hanya mendengarkan, mengerti, bahkan menerima, tetapi juga berbuat sebagaimana yang Yesus ajarkan.

Saudara sekalian, dengan mengatakan roti hidup, Yesus juga mau menjadikan diri-Nya sebagai makanan rohani bagi kita semua, makanan yang membawa kita semua dalam kehidupan kekal. Oleh karena itu, sudah sepantasnya kita semua saling mengatakan kecaplah dan lihatlah, betapa baiknya Tuhan itu! Berbahagialah orang yang berlindung pada-Nya. Ini adalah seruan dari pemazmur yang pantas pula untuk kita kumandangkan ke hadirat Allah, karena hanya orang yang rendah hatilah yang mampu mendengarkan dan bersukacita dalam Tuhan.

(Fr. Ivandi Panda Raja)

“Akulah Roti Hidup” (Yoh. 6: 48).

Marilah berdoa:

Ya Allah, aku mohon jadikanlah diriku pantas untuk selalu menerima kebaikan-Mu, khususnya santapan Tubuh dan Darah-Mu. Jadikanlah pula aku pribadi yang rendah hati di hadapan sesama khususnya di hadapan diri-Mu, sehingga aku dapat mendengarkan seruan-Mu. Amin.

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini