Hari biasa (H)
Hak. 2:11-19; Mzm. 106:34-35,36-37, 39-40, 43ab, 44; Mat. 19: 16-22.
Dunia kita dipenuhi dengan harta. Dalam hidup harian bahkan ada orang yang memfokuskan diri untuk memburu harta. Hal tersebut terjadi karena harta dunia sangat mempesona dan menggiurkan bagi manusia. Kenyamanan, ketentraman dan kebahagian adalah hal yang disediakan oleh harta duniawi bagi manusia yang mau mengikatkan diri padanya. Mata manusia sering dibutakan dengan kenikmatan harta duniawi sehingga harta tidak menjadi sebatas kebutuhan untuk hidup harian tetapi menjadi tuan dengan manusia sebagai budaknya. Hal itu jelas dalam Injil hari ini di mana seorang pemuda kaya menjadi sedih karena mengetahui bahwa kesempurnaan hidup bersama Allah dapat dicapai jika ia menjual harta benda milikknya. Kesedihannya menandakan suatu sikap keberatan darinya dan menandakan keterikatan si orang muda terhadap hartanya. Ia bimbang dan merasa tak mampu untuk mengorbankan segala hartanya demi hidup sempurna di hadapan Allah.
Dalam hidup sehari-hari tak jarang mata kita dibutakan dengan indahnya kesenangan duniawi. Harta duniawi membuat kita terlena-lena dengan kegembiraan yang muncul karenanya. Dalam kondisi demikian, manusia jatuh dalam lubang dalam dimana ia lupa akan tujuan dari hidupnya yaitu hidup bersama Allah. Harta duniawi yang hanya sementara malah dijadikan tuan. Seringkali kita menjadi seperti si muda yang akhirnya sedih dan cemas untuk menghadapi hari esok yang tak berharta dan takut akan berkekurangan. Kita dipanggil bukan untuk mengumpulkan harta, tapi untuk mengumpulkan kebaikan dalam diri kita dan membagikannya untuk orang lain. Kita dipanggil bukan untuk harta tapi untuk menjadi pewarta. Dalam panggilan hidup kita masing-masing, kita tak perlu khawatir akan segala sesuatu. Tuhan telah memanggil kita dengan rahmat-Nya.
Oleh sebab itu, hendaklah kita memantapkan hati dan budi kita serta mengarahkan hidup seutuhnya pada penyelenggaraan Allah. Hendaklah kita berdoa supaya Tuhan selalu menjadikan mata hati kita terang supaya kita dapat mengerti pengharapan dari Tuhan. Dengan demikian, kita tidak menjadi pemburu harta tapi menjadi pewarta kabar keselamatan dan saksi kebangkitan Kristus dalam hidup sehari-hari
(Fr. Delviano Kapele)
“Dan segala sesuatu telah diletakkan-Nya di bawah kaki Kristus dan Dia telah diberikan-Nya kepada jemaat sebagai Kepala dari segala yang ada” (Ef. 1: 22).
Marilah berdoa:
Ya Bapa, sadarkanlah aku akan keutamaan-keutamaan yang harus kulakukan untuk hidup sempurna bersama-Mu. Amin.











