Pw S. Agustinus, UskPujG (P)
1Tes. 4:9-11; Mzm. 98:1,7- 8,9; Mat. 25:14-30
Hari ini kita meperingati Santo Agustinus Uskup dan Pujangga Gereja. Santo Agustinus semasa mudanya bertualang dalam kesenangan duniawi yang membelenggunya dalam dosa. Berkat doa Santa Monika, ibunya, dan tumbuhnya kesadaran diri untuk bangkit, dia berbalik kepada Tuhan, setelah berdebat dengan Santo Ambrosius tentang hal rohani, kekekalan jiwa, serta hidup dalam kekudusan. Sejak itu, jiwa Santo Agustinus terpaut pada Tuhan. Melalui buku “Pengakuanku”, serta ungkapannya “Terlambat aku mencintai-Mu, kekekalan yang senantiasa baru”, Santo Agustinus menyentuh nurani banyak orang yang rindu untuk mengecap kedamaian dan ketenteraman hidup rohani dalam persatuan dengan Tuhan.
Bacaan Injil menceritakan mengenai “perumpamaan tentang talenta”. Perumpamaan ini menggambarkan apa yang akan terjadi ketika Tuhan datang kembali ke dunia. Prosesnya seperti halnya seorang tuan yang bepergian keluar negeri dan memercayakan hartanya kepada hamba-hambanya. Ada yang diberikan lima talenta, ada yang dua talenta dan ada yang satu talenta. Masing-masing diberi tanggung jawab sesuai dengan kesanggupannya. Setelah lama berselang, tuan itu pulang dan melakukan perhitungan atas talenta yang di percayakan kepada hamba-hambanya itu. Prinsipnya talenta-talenta itu harus berkembang untuk memperoleh laba.
Semua orang adalah hamba yang dipercayakan berbagai macam talenta oleh Tuhan, menurut kesanggupannya masing-masing. Pastinya Tuhan tidak akan memberikan sesuatu yang tidak dapat kita pikul. Ada berbagai bentuk harta yang Tuhan titipkan: hidup kita, keluarga, harta kekayaan, bakat, kemampuan, waktu dan sebagainya. Namun, apapun talenta diberikan, entah banyak atau sedikit, besar atau kecil, yang terpenting adalah bagaimana kita menjadi hamba yang setia. Apapun bentuknya, ketika Tuhan datang kembali, Dia akan memanggil kita dan melakukan perhitungan atas apa yang dititipkan pada kita. Pertanyaannya, apakah kita hamba yang baik dan setia atau hamba yang jahat dan malas?
Apa yang Tuhan titipkan kepada kita bukanlah untuk dipendam sendiri. Segala kepunyaan kita adalah milik Tuhan. Akan tiba saatnya kita mempertanggungjawabkan semua. Apakah kita memperlakukan harta itu untuk kemuliaan nama Tuhan atau sebaliknya menjadi bahan kesombongan diri. Tuhan tidak mau jika hartanya itu kembali begitu saja atau bahkan sudah hilang, tetapi harus menghasilkan buah. Jika kita setia dalam perkara kecil maka kita juga akan setia dalam perkara besar. Jika kita setia pada Tuhan dalam dunia ini, Tuhan juga akan mempercayakan kehidupan yang kekal kepada kita.
(Fr. Aldo Adelbert Oping)
“Masuklah dan turutlah dalam kebahagiaan tuanmu” (Mat. 25:21).
Marilah berdoa:
Tuhan, terima kasih atas berkat dan pemberian-Mu. Semoga kami senantiasa bersyukur untuk segala sesuatu yang kami miliki. Amin.











