“Jangan Tumpul”: Renungan, Sabtu 31 Juli 2021

0
1996

Pw. St. Ignatius dari Loyola (P)

Im. 25:1,8-17; Mzm. 67:2-3,5,7-8; Mat. 14:1-12

Orang yang hidup tanpa suara hati adalah orang yang jauh dari kebenaran. Kebenaran dalam dirinya datang dari keputusan suara hati yang bulat dan benar. Suara hati merupakan institusi moral yang di dalamnya keputusan dibuat berdasarkan semua pertimbangan dari pikiran dan kehendak. Suara hati dalam dirinya tidak dapat keliru dan salah. Dengan kata lain, tindakan  amoral yang dilakukan seseorang adalah tindakan yang tidak berasal dari suara hatinya. Tindakan itu lahir dari pemikiran yang salah dan kehendak yang bersifat naluriah. Penyangkalan atas suara hati akan menyebabkan seseorang mengalami penyesalan dan kesedihan dalam hidup.

Injil hari ini menunjukkan betapa buruknya kualitas pribadi Herodes. Herodes membuat suatu keputusan yang tidak berasal dari suara hatinya saat ia memutuskan untuk memenggal kepala Yohanes Pembaptis. Herodes bagaikan bulu yang digoyang ke kanan dan ke kiri oleh tiupan angin. Herodes membunuh Yohanes Pembaptis karena kebenaran. Herodes tidak mendengarkan dan menggunakan suara hatinya yang menolak pembunuhan Yohanes Pembaptis. Dia memilih mendengarkan permintaan anak perempuan Herodias dan memilih menjaga martabatnya di hadapan para tamu atas dasar sebuah janji. Di lain pihak, kesedihan hati yang dialami oleh Herodes atas permintaan anak perempuan Herodias menunjukkan proses kerja suara hatinya. Rasa sedih Herodes merupakan akibat dari penyangsian tuntutan suara hatinya.

Pengalaman Herodes menjadi sebuah peringatan dan pembelajaran bagi kita semua. Kita diingatkan untuk selalu menjaga kualitas pribadi kita sebagai murid-murid Yesus. Kualitas pribadi kita ditentukan dari cara kita menggunakan dan mendengarkan tuntutan suara hati. Suara hati kita harus dilandaskan pada moralitas Kristiani, yang menjadikan keutamaan-keutamaan hidup Yesus sebagai dasarnya. Sebagaimana St. Ignatius dari Loyola yang hidup berdasarkan keutamaan-keutamaan hidup Yesus, kita semua diajak untuk mempertahankan dan senantiasa mengasah suara hati kita dengan berpatokan pada moralitas Kristiani. Dengan begitu, dalam dunia yang berupaya untuk menggoncang para murid ke sana ke mari, kita dapat bertahan sambil memohon bantuan dari Yesus dalam doa.

(Fr. Theofilus Pontoh)

“Janganlah kamu merugikan satu sama lain, tetapi engkau harus takut akan Allahmu, sebab akulah Tuhan, Allahmu” (Im. 25: 17).

Marilah berdoa:

Ya Tuhan, bantulah kami untuk selalu mendengarkan suara-Mu. Amin.

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini