“Yesus, Allah dan Manusia”: Renungan, Jumat 4 Juni 2021

0
1584

Hari Biasa (H)

Tb. 11:5-17; Mzm. 146:2abc.7.8-9a.9bc-10; Mrk. 12:35-37.

Singkat cerita, ada sepasang kekasih yang sudah menikah.  Mereka memohon kepada sang pencipta supaya diberikan seorang anak, entahkah perempuan atau laki-laki. Permohonan mereka akhirnya dikabulkan oleh sang pencipta. Mereka mendapatkan anak laki-laki. Namun, siapa sangka kalau anak ini tumbuh menjadi seorang yang penuh dengan hikmat. Dia punya kuasa dalam hidup setiap manusia. Ternyata anak ini adalah titisan sang pencipta.

Selaras dengan cerita di atas, Injil hari ini menceritakan soal kaitan antara Yesus dan Daud, Raja Israel. Di satu sisi, Yesus dapat dikatakan sebagai keturunan Daud, karena Yusuf ayahnya di dunia ini. Di pihak lain juga, Yesus dipandang sebagai Mesias, oleh orang-orang Israel (Yoh. 4:25.42). Kedua pernyataan ini adalah benar. Yesus memang mesias dan keturunan Daud, tetapi bukan hanya itu. Yesus adalah Kristus, Sang Anak Allah dan sekaligus Anak Manusia.

Pengajaran Yesus di Bait Allah dan sejumlah besar orang yang datang mendengarkannya, menjadi bukti bahwa Yesus memiliki kuasa ilahi. Hal ini juga melampaui perkataan dari para ahli Taurat, bahwa Mesias adalah anak Daud. Yesus sendiri berkata dalam pengajaran-Nya, “Daud sendiri menyebut Dia Tuannya, bagaimana mungkin Ia anaknya pula?”. Pernyataan Yesus ini sungguh merupakan penegasan dasar, bahwa Dia adalah Anak Allah, Mesias yang dijanjikan. Serta hendak menunjukkan juga bahwa Ia telah ada jauh sebelum Daud ada, bahkan sebelum segala sesuatu terjadi (Yoh. 1:1). Dari sini dapat dikatakan bahwa rupanya, para ahli Taurat belum mengetahui dengan baik Mesias yang sebenarnya.

Pesan iman yang terdapat dalam Injil hari ini adalah bahwa Yesus sebagai manusia, berasal dari keturunan Daud tetapi keallahan-Nya sudah ada sebelum segala sesuatu terjadi. Ia sudah ada bersama Bapa sebelum segala sesuatu terjadi. Yesus Kristus juga disebut Raja, tetapi bukanlah raja duniawi, tetapi Raja yang memimpin hati dan pikiran manusia dengan cinta kasih dan lemah lembut. Ia bukanlah raja yang menghendaki kekayaan dan kuasa duniawi, tetapi yang mempromosikan keadilan dan perdamaian dalam hati dan pikiran manusia.

Dialah Allah sendiri, Allah yang menyelamatkan umat manusia yang percaya kepada-Nya. Itulah Yesus Kristus, Tuhan dan Raja Kita. Marilah kita sebagai pengikut-Nya, berani menjadi saksi dan pewarta Kristus di dunia ini. Ingatlah bahwa kita adalah anak-anak terang, bukan anak-anak gelap.

 

(Fr. Chrisanctus Sadrack)  

 

“Tuhan telah berfirman kepada Tuan-ku: duduklah di sebelah kanan-Ku, sampai musuh-musuh-Mu Kutaruh di bawah kaki-Mu” (Mrk. 12:36).

Marilah Berdoa:

Allah yang Mahakuasa, hidupkanlah dalam diri kami semangat untuk bersaksi tentang misteri ilahi-Mu. Amin.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini