“Pemberian yang Sejati”: Renungan, Sabtu 5 Juni 2021

0
1385

Pw S. Bonifasius, UskMrt (M)

Tb. 12:1,5-15,20; Tb. 13:12,6,7,8; Mrk.12:38-44.

Apakah kita pernah bertanya dalam diri kita, berapa banyak kita memberi dan apa yang telah kita berikan kepada orang yang memberi kepada kita? Kapan kita memberi sesuatu tanpa memikirkannya? Lebih sering kah kita memberi daripada meminta dan menerima? Hidup yang kita jalani ini tak pernah terlepas dalam kegiatan timbal balik seperti meminta, memberi dan menerima. Hal itu merupakan bagian yang penting dalam pemenuhan kebutuhan dan keberlangsungan hidup kita dalam kaitannya dengan relasi sosial setiap hari. Kita meminta, memberi dan menerima. Proses ini terus berjalan dan berada pada satu siklus yang terulang.

Hari ini kita mendengar bacaan-bacaan yang menekankan pada hal memberi. Bacaan pertama dan Injil memberikan satu makna penting dari memberi yakni pemberian itu diberikan karena keikhlasan dan bukan karena mengharapkan sesuatu. Memang secara manusiawi kita masih mengharapkan balasan dari pemberian kita dan hal tersebut adalah wajar. Namun, jika hal demikian menjadi tujuan kita, itu bukanlah pemberian yang dimaksudkan.

Bacaan-bacaan hari ini, memperlihatkan kepada kita dua tokoh yang menjadi contoh. Yang pertama, Malaikat Rafael. Ia menolak balas jasa dari apa yang dilakukannya kepada Tobia. Bukan untuk dia pemberian itu harus diberikan tetapi kepada Allah. Yang kedua, seorang janda. Janda yang dikisahkan dalam Injil Markus yang memberi dari kekurangannya menjadi contoh orang yang memberi seluruh hidupnya pada Tuhan dari apa yang dimilikinya bahkan sampai tidak ada lagi yang dia punya. Terlepas dari kedua tokoh tersebut, Yesus Kristus merupakan contoh dan teladan sentral karena Ia memberikan seluruh hidup-Nya pada kehendak Allah dan keselamatan umat manusia.

Memberi merupakan satu hal yang sangat simpel dan sederhana untuk dilakukan, namun menuntut suatu pengorbanan yang besar. Pengorbanan itu dapat berupa banyak hal yakni waktu, fisik, mental dan materi. Namun satu hal yang harus terus dipertahankan yakni pemberian yang saya berikan dengan peluh dan pengorbanan diri saya merupakan tanda persembahan dan pujian kepada Tuhan dan sesama. Semoga Santo Bonifasius yang mengorbankan dirinya demi umat dan cinta-Nya pada Tuhan senantiasa mendoakan kita agar mencapai kehidupan kekal dalam Cinta Abadi dengan Allah di Surga.

(Fr. Marco Yohanis Mamarodia)

“Lebih baiklah doa benar dan sedekah yang jujur daripada kekayaan yang lalim” (Tob. 12:13).

Marilah berdoa:

Ya Tuhan, semoga aku selalu memberi dari apa yang ada pada diriku. Amin.

 

 

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini